Rabu, 30 Mei 2007


Hidup manusia adalah proses panjang untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Setiap proses pada dasarnya merupakan gerak dinamis yang berorientasi ke masa depan. Masa depan manusia pada dasarnya harus dipancangkan dari pemahamannya tentang dirinya dan makana hidupnya. Ketika manusia sudah sampai ke tingkat pemahaman diri yang cerdas dan mendalam, maka akan cerdas dan mendalam pula pemahamannya tentang hidup dan kehidupan, termasuk tentang masa depannya. Begitulah beberapa kalimat yang tertulis dalam kata pengantar yang ditulis oleh ustadz didik.
Dari beberapa kalimat tersebut terdapat kata mengaktualisasikan potensi. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia telah dibekali dengan banyak potensi. Dalam diri manusia terdapat tiga potensi yang diberikan Allah SWT kepada setiap pribadi :
Potensi Jasadiyah
Setiap makhluk yang disebut kasat mata pasti memiliki tubuh atau badan atau jasad yang dalam bahasa jawa disebut badan wadak. Seorang Muhammad Ali dapat mensyukuri kenikmatan akan jasadnya dengan menggunakan obyek itu sebagai salah satu cara untuk mengaktualisasikan petensi yang ada dalam dirinya. Rosulullah pun sangat memperhatikan potensi jasadiyah yang ada dalam diri beliau. Contoh : Rosulullah sangat suka dengan beberapa cabang olahraga yaitu memanah, berenang dan berkuda. Dalam hidupnya pun rosulullah hanya pernah sakit dua kali yaitu ketika di datangi malaikat ketika akan menjadi nabi dan juga ketika akan wafat. Sebagai umat Rosulullah kita harus mencontoh apa yang dilakukan oleh beliau, termasuk dalam mengekspresikan potensi jasadiyah yang dimiliki.
Potensi Fikriyah
Potensi yang dimiliki jika hanya berupa jasadiyah tentunya akan tidak ada bedanya antara manusia dengan hewan dan tumbuhan. Manusia disebut kholifah fil ardh adalah manusia yang dapat memaksimalkan potensi fikriyah. Karena saat ini perkembangan zaman telah mencapai tahap luar biasa. Ketinggalan satu jam saja di bidang tekhnologi akan membuat kita gagap teknologi. Misalnya Thomas Alfa Edison adalah manusia yang dapat membaca ayat-ayat Allah berupa ayat Qouniyah ( fenomena alam ). Ibnu Sina juga termasuk orang yang dapat membaca ayat Allah pada bidang kedokteran.
Potensi Ruhiyah
Potensi ini sering disebut dengan ESQ ( Emotional Spiritual Question ). Dan itulah yang diakui dunia bahwa dengan ESQ tak hanya kesuksesan dunia yang akan dimiliki namun kesuksesan akhirat juga akan tergapai. Dalam halaman 11 ustadz Didik menjelaskan melalui ayat dalam Qur’an surat 28:77 bahwa ayat tersebut mengajarkan kita untuk menguji kecerdasan rohani dalam menyikapi masa depan dunia dan akherat. Logika sederhananya adalah ”Kerjalah yang pasti jangan diabaikan yang mungkin”. Ustad Didik mengilustrasikan sederhana yang kita jadikan pegangan.”Dunia ini ibaratnya seperti rumput sedang akherat itu seperti padi”. Rumusnya siapa yang menanam padi pasti akan menjumpai rumput tetapi siapa yang hanya menanam rumput, jangankan bisa panen padi, rumputpun belum tentu tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Siapa yang sibuk mencari akherat dengan benar, Allah akan memberikan hak-hak dunianya, sementara yang jungkir balik mencari dunia, jangankan akan masuk surga, di dunia saja kadang-kadang tidak sempat bahagia, bahkan banyak yang menderita dan hina.
Buku tersebut terbagi menjadi 4 bab :
Bab pertama berjudul tataplah masa depanmu dengan cerdas
Bab kedua berjudul mumpung kamu masih muda
Bab ketiga berjudul hidup itu butuh ilmu
Bab keempat selamat menjelang किअमत
continued......

Minggu, 27 Mei 2007

Dusun Giriloyo, Wukirsari, di Kecamatan Imogiri, Bantul, secara tradisional merupakan sentra perajin batik tulis. ”Ilmu membatik kami dapat turun temurun sejak dulu. Mayoritas warga Giriloyo memang perajin batik,” ujar Siti Anifah (32), salah seorang perajin.
Potensi ekonomi nan besar itu perlahan surut seiring terpinggirkannya kerajinan batik tulis. Selain tergusur industri batik cap, “Proses membuat batik tulis lebih lama dan kami tidak memiliki akses pasar langsung,” terang Bidayah (27) yang mengaku penghasilan dari membatik tidak mmadahi untuk menopang kebutuhan keluarga.
Bidayah dan teman-temannya mngaku hanya mampu menyelesaikan satu lembar kain atik tulis dalam sebulan. Selama ini, mereka hanya mampu menghasilkan kain batik mentah yang belum diwarnai. Batik mentah itu disetorkan kepada seorang pengepul batik yang disebut juragan. Praktis, para perajin batik tulis hanya menjadi pekerja lepas dengan penghargaan ak lebih dari Rp. 100.000 untuk satu lembar kain batik yang mereka hasilkan.
Prospek suram sebagai perajin batik, menyebabkan banyak warga giriloyo tidak mengembangkan keterampilan alamiahnya. Mereka memilih meningalkan profesi pembatik dan mengadu peruntungan hingga ke luar Jawa. “Saya pernah merantau ke Batam dan Lampung sebagai buruh pabrik demi menjaga asap dapur tetap ngebul,” tutur Bidayah.
Kondisi makin memprihatinkan pasca gempa 5,9 SR setahun lalu. Peralatan membatik perajin Giriloyo hancur tertimpa runtuhan bangunan. Praktis, sementara waktu kegiatan menggores lilin dengan canting yang saban hari terlihat di balik pintu rumah setiap warga Giriloyo tidak terlihat lagi.

Melestarikan Akar Budaya
Memasuki tahap recovery pascagempa, Dompet Dhuafa merangkul perajin batik Giriloyo melalui program pendampingan. Selain memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill membatik, DD juga kerap mengadakan workshop dan eksibisi batik Giriloyo yang memiliki corak unik.
“Ini untuk menjaga akar budaya sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi perbatikan agar tidak terpinggirkan,” ujar Kusnandar, Direktur Program Baznas Dompet Dhuafa. Batik Giriloyo memang mencerminkan keguyuban dan gotong royong yang kental dalam proses pembuatannya. Kusnandar menambahkan, dengan pendampingan, diharapkan terbuka akses permodalan, peningkatan skill dan manajemen, serta akses pasar yang lebih menjanjkan sehingga perajin batik bisa mengandalkan “bakat alamiahnya” untuk bersaing dalam kehidupan.
“Dulu, sebagai buruh kami hanya memperoleh upah seratus ribu untuk selembar kain batik mentah yang kami hasilkan dalam waktu sebulan. Sekarang, kami bisa melakukan proses lebih lanjut sampai ke pewarnaan dengan hasil kain jadi yang harganya lebih tinggi,” tutur Anifah senang. Salah satu keunggulan batik Giriloyo adalah pengunaan bahan-bahan alamiah dari kulit pohon, gula merah, hingga batu secang sebagai bahan pewarna.
Bahkan, sebagian pembatik Giriloyo telah mampu menghasilkan produk pakaian jadi dari batik yang mereka lukis. Harga satu potong kemeja batik Giriloyo dihargai antara Rp. 500.000 hingga jutaan rupiah. Tentunya, ini berimbas pada peningkatan penghasilan perajin batik Giriloyo.

Rekor MURI
Acara refleksi satu tahun pascagempa yang diselenggarakan Tim Teknis Nasional, dimanfaatkan DD Jogja untuk mempromosikan kembali potensi mewah batik Giriloyo. “Kami mencoba membuat event yang akan menyegarkan kembali memori dunia usaha pada potensi batik Giriloo yang pernah berkibar pada masanya,” terang Herdiansyah, Koordinator DD Jogja, mitra pendamping perajin batik Giriloyo.
Setelah hampir setahun nyaris tidak membatik, pagi hari (27/5) seribu tigaratus lebih pembatik yang tergabung dalam Paguyuban Batik Tulis Trilodji Giriloyo, serempak menggores kain sepanjang 1.200m dengan lebar 40cm yang dibentang di pinggir jalan Giriloyo. Tiap pembatik mendapat kapling sekitar satu meter di mana mereka bebas mengekspresikan diri dengan corak yang disukainya. Selain corak-corak biasa, terselip pesan-pesan peringatan setahun gempa dari pembatik yang “kreatif”.
Kehebohan pagi itu adalah upaya mencatatkan rekor dunia batik tulis terpanjang karya perajin batik Giriloyo yang diabadikan Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI). Mulai menggores canting sejak pukul 08.00, kain batik tulis terpanjang di dunia itu pun selesai dikerjakan jelang tengah hari. “Ini jauh sekali memecahkan rekor sebelumnya yang dibuat pembatik di Kabupaten Pacitan (Jatim) sepanjang 200m,” ujar Sri Widayati, representasi MURI yang mengaku terkejut karena panitia pemecahan rekor semula hanya menyarankan kain sepanjang 500m saja.
“Pemecahan rekor dunia batik tepanjang ini kami harapkan menjadi stimulus bangkitnya perbatikan di Giriloyo,” ujar Kusnandar di sela upaya memecahkan rekor yang disaksikan H. Idham Samawi, Bupati Bantul.
Selain memecahkan rekor dunia batik tulis terpanjang, DD Jogja juga memprakarsai pemecahan rekor tas belanja terbesar yang dibuat dengan bahan kain batik. Tas raksasa berukuran panjang 6,5m dengan lebar 2m dan tinggi 5m yang menghias pelataran utama gedung Jogja Expo Center itu menjadi ikon acara Refleksi Satu Tahun Gempa yang digelar Tim Teknis Nasional pada 25 Mei - 27 Mei 2007. Tas raksasa buah karya sekitar limapuluh perajin batik Giriloyo itu pun dicatat oleh MURI sebagai ta belanja terbesar di dunia.