Hidup manusia adalah proses panjang untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Setiap proses pada dasarnya merupakan gerak dinamis yang berorientasi ke masa depan. Masa depan manusia pada dasarnya harus dipancangkan dari pemahamannya tentang dirinya dan makana hidupnya. Ketika manusia sudah sampai ke tingkat pemahaman diri yang cerdas dan mendalam, maka akan cerdas dan mendalam pula pemahamannya tentang hidup dan kehidupan, termasuk tentang masa depannya. Begitulah beberapa kalimat yang tertulis dalam kata pengantar yang ditulis oleh ustadz didik.
Dari beberapa kalimat tersebut terdapat kata mengaktualisasikan potensi. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia telah dibekali dengan banyak potensi. Dalam diri manusia terdapat tiga potensi yang diberikan Allah SWT kepada setiap pribadi :
Potensi Jasadiyah
Setiap makhluk yang disebut kasat mata pasti memiliki tubuh atau badan atau jasad yang dalam bahasa jawa disebut badan wadak. Seorang Muhammad Ali dapat mensyukuri kenikmatan akan jasadnya dengan menggunakan obyek itu sebagai salah satu cara untuk mengaktualisasikan petensi yang ada dalam dirinya. Rosulullah pun sangat memperhatikan potensi jasadiyah yang ada dalam diri beliau. Contoh : Rosulullah sangat suka dengan beberapa cabang olahraga yaitu memanah, berenang dan berkuda. Dalam hidupnya pun rosulullah hanya pernah sakit dua kali yaitu ketika di datangi malaikat ketika akan menjadi nabi dan juga ketika akan wafat. Sebagai umat Rosulullah kita harus mencontoh apa yang dilakukan oleh beliau, termasuk dalam mengekspresikan potensi jasadiyah yang dimiliki.
Potensi Fikriyah
Potensi yang dimiliki jika hanya berupa jasadiyah tentunya akan tidak ada bedanya antara manusia dengan hewan dan tumbuhan. Manusia disebut kholifah fil ardh adalah manusia yang dapat memaksimalkan potensi fikriyah. Karena saat ini perkembangan zaman telah mencapai tahap luar biasa. Ketinggalan satu jam saja di bidang tekhnologi akan membuat kita gagap teknologi. Misalnya Thomas Alfa Edison adalah manusia yang dapat membaca ayat-ayat Allah berupa ayat Qouniyah ( fenomena alam ). Ibnu Sina juga termasuk orang yang dapat membaca ayat Allah pada bidang kedokteran.
Potensi Ruhiyah
Potensi ini sering disebut dengan ESQ ( Emotional Spiritual Question ). Dan itulah yang diakui dunia bahwa dengan ESQ tak hanya kesuksesan dunia yang akan dimiliki namun kesuksesan akhirat juga akan tergapai. Dalam halaman 11 ustadz Didik menjelaskan melalui ayat dalam Qur’an surat 28:77 bahwa ayat tersebut mengajarkan kita untuk menguji kecerdasan rohani dalam menyikapi masa depan dunia dan akherat. Logika sederhananya adalah ”Kerjalah yang pasti jangan diabaikan yang mungkin”. Ustad Didik mengilustrasikan sederhana yang kita jadikan pegangan.”Dunia ini ibaratnya seperti rumput sedang akherat itu seperti padi”. Rumusnya siapa yang menanam padi pasti akan menjumpai rumput tetapi siapa yang hanya menanam rumput, jangankan bisa panen padi, rumputpun belum tentu tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Siapa yang sibuk mencari akherat dengan benar, Allah akan memberikan hak-hak dunianya, sementara yang jungkir balik mencari dunia, jangankan akan masuk surga, di dunia saja kadang-kadang tidak sempat bahagia, bahkan banyak yang menderita dan hina.
Buku tersebut terbagi menjadi 4 bab :
Bab pertama berjudul tataplah masa depanmu dengan cerdas
Bab kedua berjudul mumpung kamu masih muda
Bab ketiga berjudul hidup itu butuh ilmu
Bab keempat selamat menjelang किअमत
continued......
RSS Feed
Twitter
16.16
tak semua sama
