Minggu, 17 Mei 2009

Setelah perbincangan masalah umat di dalam da’wah yang memfokuskan infiradi sebagai bahagian penting dan isu utama di dalam keadaan da’wah saat ini. Persoalan da’wah yang berlaku secara umumnya daat dibahagikan kepada persoalan yang senantiasa ada pada manusia dan mungkin berterusan ada kerana perkara ini tidak mengkin terlepas dari keadaan da’wah secara umumnya. Beberapa keadaan ini adalah di sebabkan kerana kejiwaan manusia dengan kecenderungannya, watak, syahwat dan instink. Sedangkan persoalan berikutnya adalah berkaitan dengan persoalan semasa yang juga bergantung kepada keadaan tempatan negara Islam tersebut berada seperti persoalan yang di sebabkan oleh sisa-sisa masa penyelewengan seperti: dengan raja/penguasa dictator, adanya kebaikan yang berpenyakit, peninggalan para penyeru ke neraka jahanam, bekas penjajah yang meninggalkan hokum sampai ditinggalkannya sholat.

Perkara-perkara diatas menyebabkan kaum muslimin jahil terhadap Islam. Persoalan lainnya adalah penyakit-penyakit hasil penjajahan seperti: wujudnya berbagai lembaga kekufuran, akibat penjajahan yang akhirnya keterbelakangan iptek, masyarakat Islam yang cara berfikirnya salah, kejiwaan ummat yang salah seperti rendah diri. Keadaan ini menyebabkan adanya dominasi musuh-musuh terhadap ummat.

Kemudian persoalan lainnya yang wujud adalah terdapatnya kekuatan yang menantang seperti: musuh yang menyusn aktivitinya dengan perencanaannya, dengan penyusunannya dan dengan sarananya yang canggih. Mereka melkukan perang jahiliyah yang tersusun dengan rapi.Akibatnya ummat Islam seperti buih(hadist) yang ringan timbangannya dan mengikut arus. Jalan keluar dari masalah yang dihadapi ummat demikian adalah mesti betul-betul bersedia dan berda’wah secara serius. Beberapa jalan keluarnya adalah muslim mesti memiliki ilmu pengetahuan, melaksanakan pembinaan/tarbiyah dan juga jihad. Penumpuan jihad hendaknya membangun syakhsiyah Islamiyah.

Persoalan ummah

Persoalan ummah disebabkan kerana da’wah yang tidak berjalan atau kurang berkesan. Da’wah dan jihad ini adalah sebagai penyokong dan atap bagi akhlak dan ibadah yang akan di bangun secara baik sehingga rumah Islam ini dapat di bangun secara baik Tanpa da’wah maka permasalahan akan bermunculan secara bertahap dan kemudian memuncak keatas diri ummat Islam. Masalah ummat kerana da’wah tidak berkesan tidak di sebabkan oleh permasalah pembawa da’wah itu sendiri yang senantiasa ada mengiringi da’wah dan persoalan yang di sebabkan oleh keadaan semasa sebagai respon dan kesan keadaan sebelumnya dan keadaan akan dating.

Persoalan yang senantiasa ada

Persoalan yang selalu muncul adalah persoalan mengnai manusia, persoalan ini selalu ada selama manusia ini tetap hidup dan bersama da’wah. Dari zaman Nabi Adam hingga sekarang, keadaan manusia adalah isu permasalahan utama yang tidak pernah habis dan tak kunjung padam.Masalah yang perlu dihadapi adalah bagaimana kita menghadapi keadaan manusia ini dengan baik dan dapat mengatasi pernasalahan sebagai sarana meningkatkan keupayaan dan ketahan diri. Beberapa persoalan manusia ini adalah masalah kejiwaan manusia yang unik dan mudah berubah mengikuti keadaan dan suasana, kecenderungan peribadi ke arah tertentu, masalah watak yang beragam, pengaruh syahwat dan keadaan instink manusia.

Persoalan kontemporer

Keadaan semasa yang merupakan masalah yang ada pada reality saat ini berdasarkan kepada persoalan-persoalan sebelumnya seperti akibat dari sisa masa penyelewengan, penyakit dari penjajah dan adanya kekuatan yang menantang. Dari permasalahn ini akan mewarnai bagaimana keadaan dan masalah ummat sekarng ini. Pertimbangn kepada isu semasa ini merupakan suatu yang penting bagi menjalankan da’wah yang benar dan baik di tengah kancah perjuangan yang banyak dipengaruhi banyak factor.

1. Sisa Masa Penyelewengan

· Sebahagian dari negara dan masyarakat Islam barulah lepas dari keadaan yang dikuasai oleh dictator yang kejam dan raja yang tidak menjalankan Islam, juga berbagai keadaan yang muncul sebelum seperti pengaruh aliran sesat atau da’wah yang membawa kehancuran seperti da’wah yang berorientasikan kepada jihad senjata, da’wah sebelumnya yang membawa kesan dan imej yang negatif, dan kekuasaan yang menjadikan muslim tidak mengerjakan amalan Islam termasuk sholat.

· Persoalan manusia yang selalu menyertai da’wah ini dan persoalan semasa akan menjadikan ummat bodoh kepada Islam.

Penyakit akibat penjajahan

· Penyakit yang juga diambil kira sebagai sebab munculnya suatu kekalahan dan kehancuran Islam adalah berbagai lembaga-lembaga kekufuran seperti mahkamah, hokum jahiliyah, system pentadbiran dan juga berbagai aturan yang dilembagakan seperti industrial court; penjajah juga meninggalkan keterbelakangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sengaja diciptakan oleh penjajah sehingga menjadikan umat semakin bodoh; penjajah juga menjadikan ummatsalah berfikir atau mempunyai pemikiran yang tidak betul dan kejiwaan yang menyertainya tidak normal seperti rasa rendah diri dan tidak percaya diri.

· Keadaan ini menjadikan ummat Islam di dominasi oleh musuh-musuh Islam.

Kekuatan yang menentang

· Kekuatan-kekuatan yang menentang terhadap da’wah Islam sangat banyak di dalam masyarakat sekuler saat ini. Kepentingan-kepentingan sekuler merasa tidak terjaga apabila Islam berjaya.Keinginan hawa nafsu mereka tidak akan tersalurkan dengan tegaknya da’wah Islam sehingga mereka berusaha mati-matian menentang kekuatan Islam dan memadamkan da’wah Islam. Kekuatanyang menentang ini dirancang dengan perencanaannya dan sarana yang bak.Mereka melakukan perang jahiliyah yang disusun rapi.

· Akibat kekuatan ini adalah ummat Islam seperti buih yang ringan timbangannya dan mengikuti arus.

Jalan keluar

Jalankeluar dari permasalahan ini adalah masyarakat muslim mesti berilmu sehingga dengan ilmu ini tidak akan terpengaruh sesat dan umat Islam mempunyai benteng yang kuat.Ilmu yang benar tsaqafah yang luas perlu dipelihara dan diamalkan dengan menjalankan tarbiyah atau pembinaan. Kemudian jihad menjadi penegak dan pemeliharaan masalah walaupun demikian jihad yang dimaksudkan adalah lebih kepada da’wah untuk membangun syaksiyah Islamiyah.

Senin, 27 April 2009

Alhamdulillah...Luar biasa....

Mungkin kata tersebut yang patut ku ucapkan saat ini. Karena penantian selama hampir 2 tahun ini terwujud juga. Seorang "bidadari Kecil" telah diamanahkan kepada kami berdua. Perjalanan bahtera rumah tanggaku ini membuat aku semakin sadar bahwa tanggung jawab, kasih sayang adalah segala-galanya di dunia ini. Tanggung jawab akan posisi manusia di dunia ini sebagai "abdullah" (hamba Alloh) dan kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.

Manusia yang lahir dengan berbagai cara, ada yang melalui persalinan normal adapula yang melalui persalinan buatan seharusnya menyadarkan diri kita bahwa segalanya akan berjalan sesuai dengan kehendak Alloh SWT. Ibu, seorang makhluk yang sebelumnya disebut perempuan, wanita atau bahasa sekarang disebut cewek, ternyata adalah seorang yang sangat mulia. Dengan keikhlasannya mereka mau mencurahkan jiwa raganya ketika proses persalinan ( walupun itu kodrat ) padahal malaikat Izroil sedang menunggui mereka ketika itu. Proses itu dijalaninya dengan selalu bertasbih, bertakbir dan berdzikir semampu mereka dengan harapan anak yang didalam rahim itu bisa keluar dengan selamat. bahkan meraka tidak peduli dengan keadaan merka sendiri yang sangat kelelahan bahkan mengeluarkan darah yang begitu banyak.

Patulah kita sadari sekarang ini bahwa sakit yang mereka rasakan membuat kita hidup, kelelahan merka membuat kita menangis untuk yang pertama kalinya yang menandakan adanya kehiupan di daslam tubuh mungil kita dulu.

Senin, 06 April 2009




PENDAHULUAN

Da'wah merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan da'wah akan diperoleh apabila para anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan da'wah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada anggota da'wah yang berjatuhan, baik bentuknya penyelewengan, penyimpangan, pengunduran diri dan sebagainya, sebelum meraih kemenangan. Fenomena ini tidak bisa dihindari, sehingga ada sebagian orang memandang hal ini sebagai suatu fenomena yang wajar / sehat guna memperbaharui sel-sel intinya, dan membebaskan da'wah dari segala hal yang memberatkan dan menghambat pergerakan.

FENOMENA YANG BERJATUHAN DI ZAMAN NABI

Pada zaman Rasulullah saw, sudah terjadi fenomena pembelotan para anggota jama’ah untuk melepaskan tanggung jawab ataupun sekedar bermalas-malasan dalam berda’wah. Beberapa peristiwa berjatuhan di jalan da'wah yang sempat terjadi adalah:

1. Kelompok mutakhollifin (orang-orang yang tidak berangkat) pada perang Uhud, diantaranya: Ka’ab bin Malik, Muroroh Ibnu ‘Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Namun mereka bertiga ini kemudian diterima taubatnya oleh Allah swt, dan penerimaan taubat mereka diabadikan di dalam Al Qur’an dalam surat al Bara-ah, dan karena pertaubatan besar inilah surat ini juga dinamakan surat at-Taubah.

2. Pembocoran rahasia negara oleh Hathib bin Abi Balta’ah. Namun mengingat kebaikan masa lalunya, yaitu keikut sertaannya dalam perang Badar yang merupakan yaumul furqan, Rasulullah saw mengampuni dan tidak menghukumnya.

3. Haditsul Ifki (berita kebohongan besar) terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. Diantara orang-orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini, ada tiga sahabat nabi, mereka telah mendapatkan hukuman had, yaitu masing-masing di dera 80 kali, dan setelah itu merekapun bertaubat. Mereka itu adalah: Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy dan Misthah bin Utsatsah.

4. Pengkhianatan Abu Lubabah yang membocorkan rahasia hukum yang akan diterapkan kepada orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Dia telah menyatakan taubat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, dan Allah swt-pun telah menerima taubatnya.

5. Peristiwa berdirinya masjid dhirar.

SEBAB-SEBAB BERJATUHAN

1. Sebab yang berhubungan dengan pergerakan

  • Lemahnya segi pendidikan.
  • Tidak menempatkan personal dalam posisi yang tepat.
  • Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu.
  • Tidak adanya monitoring personal secara baik.
  • Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat.

2. Konflik intern. Konflik intern ini disebabkan oleh:

  • Lemahnya kepemimpinan.
  • Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan luar yang sengaja menyebar fitnah.
  • Perbedaan watak dan kecenderungan individu.
  • Persaingan dalam memperebutkan kedudukan.
  • Tidak adanya komitmen dan penonjolan tingkah laku individu.
  • Kevakuman aktifitas dan produktifitas.

Dalam sejarah, konflik yang pernah terjadi antar ummat Islam adalah pada peristiwa konflik golongan Aus dan Khazraj. Dalangnya (provokatornya) adalah orang-orang Yahudi, yaitu Syammas bin Qais. Atas prakarsa Rasulullah saw maka golongan Aus dan Khazraj bersatu kembali. Hal tersebut terbukti dengan turunnya QS Ali Imran: 100 – 105

3. Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified. Sebabnya antara lain:

  • Kelemahan dalam kemampuan idiologi.
  • Kelemahan dalam kemampuan organisatoris.
  • Oleh karena itu, seorang pemimpin yang diangkat haruslah memiliki syarat:
  • Mengenal da'wah.
  • Mengenal diri sendiri.
  • Pengayoman yang kontinyu.
  • Teladan yang baik.
  • Pandangan yang tajam.
  • Kemauan yang kuat.
  • Kharisma kepribadian yang fitri.
  • Optimisme.

4. Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu

Yaitu berjatuhannya anggota disebabkan oleh atau bersumber pada pribadi anggota.

Yang termasuk dalam hal ini adalah:

  • Watak yang tidak disiplin, sehingga menyebabkan dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan organisasi / jama’ah.
  • Takut terancamnya diri dan periuk nasinya (QS 4 : 120, QS 3 : 175).

Tersebut dalam hadits:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي).

“Syurga dipagari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi oleh segala hal yang menyenangkan”. (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi).

5. Sikap ekstrim dan berlebih-lebihan.

Tersebut dalam hadits:

“Hendaklah kamu menjauhi sikap ekstrim dalam agama. Sesungguhnya orang yang sebelum kamu binasa karena ekstrim dalam beragama”. (HR Ahmad dan An-Nasai

6. Sikap terlalu memudah-mudahkan dan meremehkan.

Tersebut dalam hadits:

“Sesungguhnya kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan dosa menurut pandangan mata kamu lebih halus dari rambut. Di masa Rasulullah saw, kami menggolongkan perbuatan itu termasuk al muubiqoot (hal-hal yang menghancurkan)”. (HR Bukhari).

7. Tertipu kondisi gemar menampilkan diri (QS 28 : 83).

8. Kecemburuan terhadap orang lain / kedengkian. (QS 5 : 27 – 30).

9. Bencana senjata / penggunaan kekuatan.

Syarat-syarat penggunaan kekuatan:

  • Habis segala usaha dengan jalan lain.
  • Urusannya dipegang oleh pimpinan dan jama’ah Islam dan bukan oleh individu.
  • Tidak menjurus pada pengrusakan dan bencana.
  • Tidak boleh keluar dari ketentuan syara’.
  • Penggunaan kekuatan sesuai skala prioritas.
  • Penggunaan senjata harus mempunyai persiapan yang matang dan cermat.
  • Hati-hati akan pancingan berbagai reaksi.
  • Tidak boleh menjerumuskan ummat Islam bila posisi kekuatan tidak seimbang.

10. Tekanan Luar

  • Tekanan dari suatu cobaan (QS 3 : 175).
  • Tekanan keluarga dan kerabat (QS 9 : 24).
  • Tekanan Lingkungan.
  • Tekanan gerakan agitasi (penyebaran kritik dan keragu-raguan).
  • Tekanan figuritas (QS 7 : 12).

Sabtu, 04 April 2009

Birrul Walidain merupakan kebaikan-kebaikan yang dipersembahkan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya, kebaikan tersebut mencakup dzahiran wa batinan dan hal tersebut didorong oleh nilai-nilai fitrah manusia. Wajibatul walid (kewajiban orang tua) ialah orang tua berkewajiban mempersiapkan anak-anaknya agar berbakti kepadanya. Sabda Rasulullah “Allah merahmati orang tua yang menolong anaknya untuk bisa berbakti kepadanya”.

Keutamaan-keutaman dari Birrul Walidain

1. Ahabul ‘amali illalahi ta’ala (amal yang paling dicintai disisi Allah SWT)

Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdir Rahman Abdillah Ibni Mas’ud ra “Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW amal apa yang paling di cintai disisi Allah?” Rasulullah bersabda “ Shalat tepat pada waktunya”. Kemudian aku tanya lagi “Apa lagi selain itu?” bersabda Rasulullah “Berbakti kepada kedua orang tua” Aku tanya lagi “ Apa lagi ?”. Jawab Rasulullah “ Jihad dijalan Allah”. Ini berarti diantara 2 amal yang paling dicintai Shalat tepat waktu dan jihad fisabilillah tidak berarti jika durhaka kepada orang tua. Ini dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menolak salah seorang sahabat untuk berjihad dijalan Allah karena belum mendapat ridha orang tua. Akhirnya Rasulullah memperintahkan sahabat tsb untuk segera pulang memperbaiki hubungan dengan kedua orang tuanya.

2. Laisajaza an min waladin ila walidih (Bakti kepada orang tua bukanlah merupakan suatu balas budi)

Seseorang anak tidak akan dapat membalas jasa kedua orang tua. Sebagaimana dalam hadist “Tidak akan dapat membalas seorang anak kepada orang tuanya melainkan anak itu mendapatkan orang tuanya sebagai hamba sahaya lalu dia membelinya kemudian memerdekakannya”.

3. Al ummu hiya ahaqu suhbah (perioritas untuk mendapat perlakuan yang lebih dekat dari kedua orang tua ialah ibu)

Dikisahkan seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah “Siapakah yang lebih berhak diantara manusia yang paling harus aku perlakukan secara baik?” menjawab Rasulullah “Ibumu” Bertanyalah lagi sahabat tsb “Siapalagi Ya Rasulullah?” Menjawab Rasulullah “Ibumu” Bertanyalah lagi sahabat tsb “Siapalagi Ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah “Ibumu” Bertanyalah lagi sahabat tsb “Siapalagi Ya Rasulullah?” Barulah Rasulullah menjawab “Bapakmu”. Dalam Qs. 31:14 Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, terutama pada ibunya yang telah mengandung dan menyusuinya.

4. Makruman bi ibadatillah (Berbakti kepada orang tua dibarengi dengan ibadah kepada Allah SWT)

Qs. Al Israa’ ayat 23 Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua melarang perkataan “ah” dan membentak kepada keduanya dan mengucapkan perkataan yang mulia. Ayat ini mengartikan bahwa berbakti kepada orang tua sama wajibnya dengan ibadah kepada Allah SWT.

Unsur-unsur Birrul Walidain

Seorang anak ketika ingin berbakti kepada kedua orang tuanya harus bersikap atau berakhlak yang terkait dengan unsur-unsur Birrul Walidain . Jika unsur-unsur tsb tidak terpenuhi maka hukukul walidain (durhaka kepada orang tua). Unsur-unsur Birrul Walidain yaitu:

1. Al muhaqodhotu alal kaul

Seorang anak hendaknnya menjaga dan memelihara ucapannya dihadapan orang tua, terlebih bagi mereka yang sudah berusia lanjut jangan sampai perkataan atau perbuatannya menyinggung perasaan mereka, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam Qs.17 : 23.

2. Khofdul Jannah

Sikap bahasa tubuh seorang anak tidak boleh membusungkan dada terhadap orang tua melainkan merendahkan diri kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan mendoakan mereka agar keduanya dikasihi Allah sebagaiman mereka mengasihinya waktu kecil. Hal ini diperintahkan Allah SWT dalam Surat Al Israa’ ayat 24.

3. Attoah Almushahabah

Akhlaq seorang anak yang taat dan kedekatan serta keakraban terhadap orang tua. Walaupun mungkin ketidaktaatan seorang anak kepada orang tua karena permasalahan yang sangat syar’i (prinsip) tetapi sikap mushahabah (keakraban) tetap harus dilakukan karena itu merupakan hak orang tua, Allah menjelaskannya dalam Qs. 31:15.

4. Sabatulbirri ba’da wafatihima

Tetap berkewajiban berbakti kepada orang tua setelah kedua meninggal dunia. Dalam surat An Anjm ayat 39-41 bahwa Allah SWT memberikan kesempatan kepada orang tua yang meninggal dunia masih memiliki simpanan amal kebaikan yang dapat diperoleh dari anak-anak yang sholeh dan sholeha. Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa suatu ketika datang seseorang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata “Ya Rasulullah apakah masih ada kesempatan untuk berbakti aku kepada orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Rasulullah dengan tegas menjawab “Ya, masih ada”. Ada 5 hal yang harus dijalankan setelah kepada seorang anak agar berbakti kepada orang tua yang telah meninggal :

a. Asshalatu ‘alaihima (berdo’a untuk keduanya)

b. Wal isthigfaru lahuma (memohonkan ampun keduanya)

c. Wainfadzu ahdihima (melaksanakan janji-janjinya)

d. Waiqramu shadiqihima (memuliakan teman-teman keduanya)

e. Wasilaturrahimmisilati latu shallu illa bihima (silaturrahmi kepada orang-orang yang tidak ada hubungan silaturahmi kecuali melalui wasilah kedua orang tua)

Kisah-kisah Para Nabi & sahabat Rasulullah SAW dalam mempraktekan Birrul Walidain

· Kisah Nabi Ibrahim As

Nabi Ibrahim As mempunyai ayah yang bernama Azar yang aqidah-nya berseberangan dengan Nabi Ibrahim As tetapi tetap menunjukan birrul walidain yang dilakukan seorang anak kepada bapaknya. Dalam menegur ayahnya beliau menggunakan kata-kata yang mulia dan ketika mengajak ayahnya agar kejalan yang lurus dengan kata-kata yang lembut sebagaimana dikisahkan Allah pada Qs. 19 : 41-45.

· Kisah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW yang telah ditinggal ayahnya Abdullah karena meninggal dunia saat Rasulullah masih dalam kandungan ibunya Aminah. Dalam pendidikan birrul walidain ibunya mengajak Rasulullah ketika berusia 6 tahun untuk berziarah kemakam ayahnya dengan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanan pulang ibunda beliau jatuh sakit tepatnya didaerah Abwa hingga akhirnya meninggal dunia. Setelah itu Rasulullah diasuh oleh pamannya Abdul Thalib, beliau menunjukan sikap yang mulia kepada pamannya walaupun aqidah pamannya berbeda dengan Rasulullah. Dan Rasulullah berbakti pula kepada bibinya yang bernama Sofiah binti Abdil Mutthalib.

· Kisah Abu Bakar As Siddiq ra

Abu Bakar As Siddiq ra adalah sahabat Rasulullah SAW yang patut ditauladani dalam berbaktinya terhadap orang tua. Disaat orang tuanya telah memasuki usia yang sangat udzur, bukan hanya perkataan yang lemah lembut lagi mulia dan sikap yang baik melainkan juga beliau dapat mengajak bapaknya yakni Abu Khuwafah untuk beribadah kepada Allah SWT dan mengakui Islam sebagai pedoman hidupnya dan hal ini dinanti oleh Abu Bakar dengan cukup lama. Allah berfirman dalam QS 14 : 40 – 41 ayat yang do’a agar anak, cucu dan seluruh anggota keluarganya menjadi orang-orang yang muqiimas shalat (mendirikan shalat) dan diampuni dosa-dosanya. Ayat ini merupakan suatu kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada kelurga Abu Bakar As Siddiq ra.

· Kisah Sa’ad Bin Abi Waqas ra

Sa’ad bin Abi Waqas ra menerapkan bagaiman konteks Birrul Walidain mempertahankan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Sa’ad memeluk agama Islam, ibunya mempengaruhi dia agar keluar dari Islam sedangkan Sa’ad terkenal sebagai anak muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam kalau Sa’ad tidak keluar dari Islam maka ia tidak akan makan dan minum sampai mati. Dengan kata-kata yang lembut Sa’ad merayu ibunya “ Jangan Kau lakukan hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun gantinya atau resikonya”. Tidak bosan-bosannya Sa’ad menjenguk ibunya dan tetap berbuat baik kepadanya serta menegaskan hal yang sama dengan lemah lembut sampai suatu ketika ibunya menyerah dan menghentikan mogok makannya. Kisah ini juga merupakan asbabun nujul turunnya ayat Qs 31 : 15.

Ketika seorang anak berbakti kepada orang tua merupakan suatu bakti yang tidak hanya sekedar didunia tetapi juga di yaumil akhir.

November, Desember bulan-bulan akhir ditahun 2008. Hari Pahlawan, Idhul Adha Tahun Baru 1430 H segera menghampiri kita. Hari pahlawan yang jatuh pada setiap tanggal 10 November, seakan tak banyak yang bisa dimengerti maknanya. Sebuah iklan yang ditayangkan salah satu stasiun televisi yang menggambarkan veteran perang yang menjadi tukang semir sepatu anggota dewan yang terhormat menjadi kado untuk hari pahlawan tahun ini. Miris kita melihatnya. Kata pahlawan yang jika dipisahkan menjadi pahala dan wan; pahala yang berarti kebaikan yang diberikan Allah SWT serta wan yang berarti orang; mungkin klise bagi sebagian orang untuk menyebutnya sekarang ini. Keikhlasan baik jiwa, raga, harta bahkan nyawa para pahlawan untuk memerdekaan anak cucu mereka dari penjajah sepantasnyalah kita juga lakukan saat ini. Semangat untuk memerdekakan orang lain dari kemiskinan dengan harta yang kita punyai serta disalurkan melalui lembaga yang amanah, professional menjadi salah satu keniscayaan yang kita lakukan saat ini.

Idhul Adha yang akan tiba di Bulan Desember ini pun melengkapi hari kita untuk memberikan sesuatu yang lebih banyak untuk orang lain; Seperti pesan Pak Harfan sang kepala sekolah dalam film Laskar Pelangi. Terbayang dihati saudara kita, yang dalam kesehariannya tidak mampu membeli daging dapat merasakan lezatnya daging kurban. Sekerat daging kurban yang kita sampaikan kepada kaum mustadh’afin (kaum yang lemah dan dilemahkan), tidak akan meleyapkan begitu saja kedhuafaan mereka. Namun setidaknya agar mereka tidak merasa lelah sendirian dalam himpitan hidup yang semakin sulit. Idhul Adha menjadi puncak persaudaraan bagi kita, guyub rukun, tepo sliro ciri masyarakat Indonesia meyakinkan kita bahwa semangat itu masih melekat di dalam sanubari kita. Pengorbanan kita untuk berbagi telah dicontohkan Nabi Ibrahim A.S yang rela membagi Ismail A.S dengan Allah SWT melalui perintah penyembelihan sang putra. Allah SWT tahu yang terbaik untuk hamba-Nya; itulah yang menjadi keyakinan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah peyembelihan tersebut. Nabi Ismail A.S dengan keimanan yang tinggi dengan mantap bersedia untuk disembelih sang ayah. Sang Ibu pun akhirnya mempersilahkan Ismail untuk disembelih setelah diganggu syetan. Akhirnya pengorbanan keluarga tersebut membuahkan akhir yang manis dengan diangkatnya Ismail sebagai Nabi yang nantinya akan lahir uswatun khasanah kita Nabi Muhammad SAW.

Perjuangan Nabi Ibrahim dan para pahlawan untuk memberikan sesuatu yang terbaik, baik kepada Alloh SWT maupun kepada anak cucu sejalan dengan hadist Nabi Muhammad SAW jika kita memberi, berikanlah yang terbaik dan paling kita sukai. Betapa indah Islam dengan segala ajarannya memberikan nuansa ke-rohmatan lil ‘alaminnya benar-benar nyata.