Kamis, 13 Februari 2014







 
Pagi-Pagi ditempat aktifitas setelah semalaman ga bisa buka HP karena charger tertinggal. Bermacam pesan mulai masuk. ada satu pesan di salah satu grup whatshap. Pesan itu cukup menggetarkan hatiku. Tak terasa haru menyelimuti pagiku.
Pesan yang tertulis seperti ini :

Surat cinta untuk Abi dan Umi :

  1. Ummi/Abi... Jangan risau apa yang belum bisa kulakukan, lihatlah apa yang sudah bisa kulakukan, lihatlah lebih banyak kelebihanku.
  2. Ummi/Abi... Aku memang belum bisa berhitung, tapi lihatlah aku bisa bernyanyi dan selalu tersenyum ceria
  3.  Ummi/Abi... jangan keluhkan aku tidak bisa diam, lihatlah energiku ini, bukankah kalau aku jadi pemimpin aku butuh energi sebesar ini?.
  4. Ummi/Abi... Jangan kau bandingkan aku dengan anak lain, lihatlah aku tidak pernah membandingkanmu dengan orang tua lain, aku hanya satu.
  5. Ummi/Abi.. janganbosan dengan pertanyaan-pertanyaanku, lihatlah besarnya rasa ingin tahuku, aku belajar banyak dari rasa ingin tau...
  6. Ummi/Abi... jangan bentak-bentak aku,lihatlah aku punya perasaan, seperti engkau juga memilikinya, aku sedang belajar memperlakukanmu kelak
  7. Ummi/Abi... jangan ancam-ancam aku, seperti engkau juga tidak suka diancam orang lain, lihatlahaku sedang belajar memahami keinginanmu.
  8. Ummi/Abi... jangan lihat nilaiku yang rata-rata atau biasa saja, lihatlah aku mengerjakannya dengan jujur. lihatlah aku sudah berusaha
  9. Ummi/Abi... aku memang belum bisa membaca. namun lihatlah aku bisa bercerita, pada saatnya aku akan bisa. aku butuh engkau percaya

Rabu, 12 Februari 2014






Soal rok mini ini memang menggelitik. Saya sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena saya laki-laki. Kedua, karena saya belum pernah memakai rok mini. Sebagai orang berpendidikan, saya khawatir perspektif saya terhadap rok mini ini menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur. Tapi sebenarnya saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area public demi mendapat sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar saya tidak salah sangka:
  1. "Mbak-mbak, boleh tau apakahdengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?"   
  2.  "Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?"
  3. Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bias sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati?"
Pertanyaan ini sebenarnya penting untuk ditanyakan sebagai dasar ilmiah untuk mengambil kesimpulan, tapi belum kesampaian saya tanyakan sampai saat ini. Malu nanyanya. Dan saya memilih untuk menikmati rok mini tersebut dengan diam-diam, dengan "etika" yang saya karang sendiri agar tidak berdampak sosial yang buruk. Ada yang bilang ini soal iman. Kalau iman kuat, rok mini lewat. Saya kira setiap orang beriman yang jujur, kalau ditanya pasti menjawab akan timbul pikiran bukan- bukan ketika menjumpai perempuan muda berpaha indah memakai rok mini atau celana pendek sekali di tempat umum. Tidak usah jauh-jauh, saya sendiri akan mengaku beriman, sholat tidak pernah lewat, kadang-kadang juga ngaji, tapi rok mini is rok mini, daya tariknya sungguh sering melewati daya tangkal iman.