Selasa, 17 Maret 2015



Beberapa hari ini anak ku yang pertama mulai merajuk. “Abi ga sayang mba fira” celetuknya.

Deg….

“Waduh.. kok anak ku sudah bisa menyimpulkan seperti itu ya. Wah sepertinya ada yang salah dengan aku selama ini. Pernyataan itu sepertinya memang tidak main-main dilontarkannya. Perlu dicari sebabnya nih” begitu pikirku di sela-sela jam istirahat kantor.

Memang benar apa yang dikatakan pemateri pada kegiatan kajian ahad pagi untuk orang tua wali ahad (15/3) lalu. Aku sebagai orang tua harus mulai menjadi seorang multipler bukan menjadi orang tua yang deminiser. Orang tua yang multiplier adalah orang tua yang menggunakan kecerdasan/kemampuan mereka untuk memperkuat kecerdasan dan kemampuan anak kita. Sedangkan orang tua yang deminiser adalah orang tua yang malah membatasi kemampuan anak.

Senin, 13 Oktober 2014








Duh… badan rasanya mendidih dan panas dingin, saat membaca berita dan menonton video kekerasan anak di bukit tinggi. Apa yang dilakukan anak itu? 

Langsung aku teringat pada 2 anakku yang statusnya perempuan. Sebagai manusia normal mungkin aku akan balas perlakuan mereka yang menyakiti anakku. Tapi akal sehat dan kepala dingin mungkin bisa mendudukan masalah yang sedang terjadi.

Jika aku pada posisi dan keadaan mereka, mungkin mereka sedang memperdebatkan atau apalah yang membuat anak yang teraniaya itu tak ditolong oleh kawan-kawannya, bahkan tak ada yang bergerak untuk menyudahi perlakuan mereka. Mungkin saking jengkelnya atau apalah sehingga merasa ada pembenaran terhadap perlakuan kawan-kawan yang lainnya.

Tapi sebagai orang tua yang sangat menyayangi buah hatinya, aku tidak akan rela anakku diperlakukan seperti itu. Jadi teringat peristiwa MOS adikku di Sekolahnya. 3 hari MOS adikku selalu mengeluh dengan bentakan, cacian bahkan sampai-sampai pekerjaan rumahnya disobek di depan mukanya. Sampai-sampai dia mengigau tak karuan saat tengah malam sehingga membuat orang tuaku khawatir.

Rabu, 24 September 2014


Membagi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah menjadi kegiatan rutin setiap pagiku. Pekerjaan itu dimulai setelah kubuka mataku dari nyenyaknya tidurku. Teng… begitu mata terbuka sedikit malas juga sering-terlalu sering malah membuat badanku berat buat segera bangkit.

Melihat jam wuiihh… langsung deh beranjak dari samping anak perempuanku yang pertama. Sholat subuh pun terlaksana untuk mengawali kegiatan setiap pagi. Doa-doa ku panjatkan terutama biar dosa-dosaku terampuni. Aamiin

Kegiatan pagi ini dilanjutkan dengan membersihkan halaman depan. Entah kebalik atau tidak namun lebih nyaman sepertinya pembersihan yang dilakukan pertama adalah halaman luar. Sapu lidi dan serok pun mulai aku mainkan. Mulai dari “longkangan” barat daun kering yang ada disitu ku giring ke depan. Daun kering Yang ada di antara tanaman samping rumah nih susah digiring jika tak pakai tangan… mulai deh tangan berkotor-kotor untuk memungut bahan kompos itu. Tapi sebelum itu semua baju kotor yang menumpuk sudah diputer-puter ma tu mesin pemutar baju.

Kamis, 13 Februari 2014







 
Pagi-Pagi ditempat aktifitas setelah semalaman ga bisa buka HP karena charger tertinggal. Bermacam pesan mulai masuk. ada satu pesan di salah satu grup whatshap. Pesan itu cukup menggetarkan hatiku. Tak terasa haru menyelimuti pagiku.
Pesan yang tertulis seperti ini :

Surat cinta untuk Abi dan Umi :

  1. Ummi/Abi... Jangan risau apa yang belum bisa kulakukan, lihatlah apa yang sudah bisa kulakukan, lihatlah lebih banyak kelebihanku.
  2. Ummi/Abi... Aku memang belum bisa berhitung, tapi lihatlah aku bisa bernyanyi dan selalu tersenyum ceria
  3.  Ummi/Abi... jangan keluhkan aku tidak bisa diam, lihatlah energiku ini, bukankah kalau aku jadi pemimpin aku butuh energi sebesar ini?.
  4. Ummi/Abi... Jangan kau bandingkan aku dengan anak lain, lihatlah aku tidak pernah membandingkanmu dengan orang tua lain, aku hanya satu.
  5. Ummi/Abi.. janganbosan dengan pertanyaan-pertanyaanku, lihatlah besarnya rasa ingin tahuku, aku belajar banyak dari rasa ingin tau...
  6. Ummi/Abi... jangan bentak-bentak aku,lihatlah aku punya perasaan, seperti engkau juga memilikinya, aku sedang belajar memperlakukanmu kelak
  7. Ummi/Abi... jangan ancam-ancam aku, seperti engkau juga tidak suka diancam orang lain, lihatlahaku sedang belajar memahami keinginanmu.
  8. Ummi/Abi... jangan lihat nilaiku yang rata-rata atau biasa saja, lihatlah aku mengerjakannya dengan jujur. lihatlah aku sudah berusaha
  9. Ummi/Abi... aku memang belum bisa membaca. namun lihatlah aku bisa bercerita, pada saatnya aku akan bisa. aku butuh engkau percaya

Rabu, 12 Februari 2014






Soal rok mini ini memang menggelitik. Saya sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena saya laki-laki. Kedua, karena saya belum pernah memakai rok mini. Sebagai orang berpendidikan, saya khawatir perspektif saya terhadap rok mini ini menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur. Tapi sebenarnya saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area public demi mendapat sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar saya tidak salah sangka:
  1. "Mbak-mbak, boleh tau apakahdengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?"   
  2.  "Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?"
  3. Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bias sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati?"
Pertanyaan ini sebenarnya penting untuk ditanyakan sebagai dasar ilmiah untuk mengambil kesimpulan, tapi belum kesampaian saya tanyakan sampai saat ini. Malu nanyanya. Dan saya memilih untuk menikmati rok mini tersebut dengan diam-diam, dengan "etika" yang saya karang sendiri agar tidak berdampak sosial yang buruk. Ada yang bilang ini soal iman. Kalau iman kuat, rok mini lewat. Saya kira setiap orang beriman yang jujur, kalau ditanya pasti menjawab akan timbul pikiran bukan- bukan ketika menjumpai perempuan muda berpaha indah memakai rok mini atau celana pendek sekali di tempat umum. Tidak usah jauh-jauh, saya sendiri akan mengaku beriman, sholat tidak pernah lewat, kadang-kadang juga ngaji, tapi rok mini is rok mini, daya tariknya sungguh sering melewati daya tangkal iman.