Selasa, 03 Mei 2011

Setiap peringatan ulang tahun pernikahan, pastilah akan membawa perbedaan yang berarti. Pada tahun pertama pernikahan rasa jaim, idealisme, keromantisan pastilah sangat terasa. Dimulai dari malam pengantin, keduanya tidak akan memubadzirkan waktu dan tenaga. Bahkan sebelum dekorasi kamar pengantin itu diambil oleh persewaan, keduanya akan selalu berdua di dalamnya. Komunikasi intensif, karena keduanya baru merasakan rasa kecewa. Ya… perasaan menyesal yang teramat dalam mengapa tidak dari dulu mereka menikah.

Pada tahun kedua pun perasaan saling mencinta itu tambah kuat namun, kadang ada yang tidak malu menampakkan di depan umum dan ada juga yang tidak. Bergandengan tangan, mendekap erat ketika berboncengan, makan sepiring berdua seolah dunia ini milik berdua. Suatu saat terlihat dua sejoli yang sedang makan es krim di depan sebuah mini market keduanya pun menikmatinya dengan tertawa geli, walaupun yang mereka makan Cuma 1 es krim. Saling bergantian untuk melahapnya dan kadang mendekatkan es krim itu ke mulut mereka secara berbarengan. Mereka pun tak peduli dengan sejumlah mata yang memandang kepadanya. Entah padangan sinis, senang, pengen atau apapun.

Bagi pria romantisme seperti itu sangat didambakannya. Namun, banyak pula laki-laki yang merasa risih. Namun, perasaan risih itu akan sedikit terkurangi jika anak yang dinantikan mulai “mengganggu” kebersamaan mereka. Bagi laki-laki kehadiran anak merupakan wujud kelelakiannya. Tambah percaya diri, macho dan merasa diri paling jantan diantara semua laki-laki.

Kadang ada juga wanita yang risih dengan perlakuan lelakinya yang agresif. Merasa tidak senang dengan pemujaan yang dilakukannya. Menggandengnya, merangkulnya, meletakkan tangan di pinggangnya bahkan menciumnya di depan umum, mungkin menjadi siksaan baginya. Padahal banyak lelaki yang ingin menunjukkan keromantisannya di depan umum dan itu merupakan aktualisasi diri.

Keromantisan itu pun tergambar dari panggilan sayang keduanya. Ada yang memanggil honey, cinta, permaisuriku, bidadariku, anugerah terindah, dll. Keindahan yang terjadi dalam rumah tangga ini pun terlihat jelas. Semua hal yang mereka lalui sekan hanya indah dan tambah indah. Bahkan kesulitan yang mereka alami pun akan semakin mendekatkan keduanya.

Tak jarang para suami akan mengatakan rasa cintanya dengan ungkapan, sayangku yang cantik.. aku haus akan cintamu, tolong alirkan air cintamu melalui sulur-sulur kasihmu, aku ingin tenggelam dalam lautan birahi asmaramu. Waduh… sang istri pun menyambut dengan gemulainya body , sentuhan di pipi lelakinya, mendekatkan bibirnya.. dah menjauhlah malaikat-malaikat di sekelilingnya karena malu dengan keduanya.

Dalam masa ini, setiap pasangan akan saling memahami kebiasaan masing-masing. Posisi tidur yang aneh, irama dengkuran yang membuat tertawa, terpingkalnya tawa ketika menonton opera van java, komentar yang menghina ketika menonton bola dll membuat sadar, wah ternyata kebiasaan suamiku seperti ini ya. Tapi itu tidak menjadikannya masalah, malah akan semakin jatuh cinta. Ya.. jatuh cinta karena pasangannya tidak sama dengannya.

Saat penuh kasih sayang, yang ketika kaki istri terantuk batu dan berdarah, suami pun rela untuk menyeka, menghisap darahnya dan memaki batu. “dasar batu tidak punya mata” . Hal yang diluar akal sehat pasti terjadi di masa ini. Bahkan kata orang kotoran kucing dibilang coklat. Ihh.. apalagi coklat pasti di bilang madu, padahal kata Prof Damarjati manis madu pasti kalah dengan senyum manis gadis manis.

Senin, 02 Mei 2011

Pernah suatu ketika kehidupan rumah tangga diuji Alloh SWT. Karena memang manusia akan selalu diuji oleh Alloh seperti yang tercantum dalam Qur’an surat Al Baqoroh Ayat 155 yang berarti “Dan Kami pasti akan menguji sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Pada pertengahan tahun 2007, tano yang merasa dirinya tidak sepaham dengan kawan sekantornya mengundurkan diri keluar dari kantornya. Tibalah ia untuk segera melakukan aktifitas baru, yaitu mencari pekerjaan.

Hari sabtu menjadi dambaan dirinya, bukan karena ia mendapat upah seperti para tukang bangunan namun karena ada harapan untuk mendapat pekerjaan melalui informasi yang terpajang di Koran. Sabtu jam 9 pasti ia segera memburu Korannya di depan masjid Jami’ dekat pasar.

Dilingkarinya setiap lowongan yang menurutnya pas, dan seninnya ia segera membuat surat lamaran dan sgera menuju kantor pos untuk mengirimkannya. Posisi yang ditawarkan perusahaan pun tak ia pedulikan karena rasa tanggung jawab kepada keluarganya.Sang istri yang telah bekerja dengan setia menemani pujaan hatinya itu untuk berusaha mendapat pekerjaan lagi. Entah berapa lamaran yang di print untuk mendapatkan pekerjaan itu, bahkan ia bolak-balik ke kampusnya dulu untuk melegalisir ijazahnya

Beberapa perusahaan memanggilnya untuk mengikuti tes, mulai perusahaan bonafit sampai dengan iming-iming gaji besar ternyata pekerjaannya menjualkan barang fiktif bahwan ia ditarik sejumlah uang karena telah mengikuti tes sampai tahap wawancara. Sungguh ironis memang kehidupan di Negara ini, hasil tambang melimpah tapi pekerjaan sulit, atau memang perusahaan itu sulit mendapatkan karyawan yang sesuai. Entah lah mungkin rumput yang bergoyang yang mampu menjawabnya.

Ditengah kesibukannya melamar pekerjaan, ia semakin minder bertemu dengan keluarganya apalagi keluarga istrinya. Setiap ia ditanya tentang keadaan dirinya ia pun marah, tidak suka. Apalagi ketika datang ke tempat mertuanya saat pulang mertuanya membawakan beras, minyak, sayuran walaupun itu tidak dibeli dari warung, harga diri tano merasa terusik.

Pernah suatu ketika tano bertanya kepada istrinya, “sayang… uang kita tinggal berapa ya”; sang istri pun menjawab “manis… uang kita masih 20.000” padahal waktu itu gajian istrinya masih 2 minggu lagi. Sehingga tano pun merasa sangat bersalah. Doa, rintihan kepada Alloh SWT ia lantunkan setiap selesai sholat. Ia pun bertawasul pada amal yang dilakukannya dulu. Dan Subhanalloh, ternyata uang itu cukup untuk kebutuhan 2 minggu dengan tetap dibelikan beras, sayur, bumbu, dll. Ternyata pertolongan Alloh itu tak diduga dari mana datangnya.

Sampai akhirnya ia dihubungi kawan SMA nya yang mengajaknya mengajar di sebuah SMK di kotanya. Perasaan senang tergambar di wajah tano, ia pun datang dengan keyakinan yang tinggi akan pekerjaan itu. Tapi, ternyata gaji yang ia dapatkan tak bisa mencukupi biaya bensin motornya dalam sebulan. ‘Tak apalah.. ini adalah pengabdianku dan caraku untuk menunjukkan tanggung jawabku” gumamnya dalam hati. Tak berapa lama ia mengajar, ia dihubungi bahwa ia diterima di perusahaan antariksa di ibukota. Tak ayal lagi, ia pun segera menandatangani kontrak kerja yang berlaku 6 bulan itu.

Setiap sabtu tano bisa pulang ke daerahnya dan itu ia gunakan untuk tetap mengajar. Setelah 5 bulan berjalan, ia ditawari lagi di satu perusahaan yang sangat ia benci waktu itu bahkan ketika itu ia pernah berucap tidak akan bersentuhan dengan perusahaan sejenis itu. Namun, Alloh SWT berkehendak lain ia pun sampai sekarang masuk ke perusahaan itu.

Rencana Alloh itu memang indah. Tano merasakan sendiri bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan seperti yang tercantum dalam Qur’an Surat An Nasyr ayat 5-6 “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Wajiblah kita bersyukur kepada Alloh atas apa yang telah menjadi takdirnya. Qodho dan Qodhar Alloh SWT pasti baik untuk kita, janganlah kita menyangka bahwa yang baik menurut kita itu pasti baik untuk kita padahal hal yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh sebaliknya baik menurut Alloh pastilah baik untuk kita. Wallhau a’lam Bishowab