Hari ini 17 Desember, 7 tahun
lalu janji itu telah terucap. Janji suci yang disaksikan para malaikat dan juga
handai taulan telah menghalalkan antara kamu dan aku. Banyak hal telah kita
lalui bersama membangun keluarga. Semua orang telah mengucapkan doa, ya..
semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah walbarokah. Dari semua
doa yang terucap, saat ini yang aku tau dan aku rasakan tenang dan
menyenangkan, tapi aku tak tau apakah kamu juga merasakan hal yang sama. Itukah
yang dinamakan sakinah, mawadah warohmah wal barokah.
Rabu, 18 Desember 2013
Kamis, 05 Desember 2013
13.32
tak semua sama
2006 cerita itu telah dimulai. Tepatnya
di tanggal 17 desember waktu itu aku dan
kamu mengucap janji suci. Janji itu terucap di depan para saksi dan pak naib
KUA Sleman. Tepat pukul 8 Ayahmu telah menyerahkan seutuhnya kamu untukku. Entah
apa yang kamu rasakan waktu itu, tapi yang jelas..tiba-tiba aku merasa
gemetaran, tidak seperti tadi sebelum mengucap ijab Kabul. Kedua tanganku
terasa berat dan dingin untuk ku angkat memanjatkan doa yang dilantunkan pak
penghulu. Ternyata memang berat untuk menjadi seorang suami untuk istri yang
terkasih. Istri…. Eh aku sudah punya istri? Itulah yang terlintas dipikiranku saat
membacakan sighot taklik di buku nikah itu. Sebuah kata yang asing terucapkan.
Tapi saat tanda tangan itu membuat aku semakin mantap dengan perjalanan hidup
ini.
Tak selesai disitu, ternyata
adegan itu harus diulang dirumah karena tukang foto nya belum datang. Weh..weh..weh.
Acara dilanjutkan dengan “pahargyan” penyaksian kepada seluruh kerabat,
tetangga dan handai tulan. Masih ingat yang kamu katakana sayang saat kita
duduk di pelaminan itu? Ya.. engkau berkata “yang tegak”, masih teringat kata
itu sampai sekarang.
Tak seberapa lama tepat pukul
13.00 kita terburu-buru untuk “boyongan” di rumah orang tua ku. Seusai semuanya
itu, tepat pukul 18.00 maag menyerangmu. Yah.. jadilah malam pertama kita aku
harus membelikan obat maag untuk istriku tersayang. Masih ingatkah sayang
peristiwa itu?
Sekarang 2013, 7 tahun sudah kita
lalui hidup “bebrayan”. Saat ini pun sudah 2 bidadari kecil temani kehidupan
kita. Mengisi setiap lembaran cerita yang akan kita bangun bersama. Entah sampai
berapa lama. 100 tahun pun terasa kurang aku hidup bersamamu.
Menjelang 7 tahun perjuangan
cinta ini kadang pasang kadang turun. Jika aku mengenang masa-masa sulit itu,
rasanya aku belum membuat kamu bahagia. Malah kebingungan, ketidakpastian,
kepedihan yang aku berikan. Aku tak tahu sudah seberapa sering aku menyakitimu,
melukai hatimu dan tak memperdulikanmu, hanya kamu yang bisa hitung dan rasakan
selama ini.
Yah… aku memang bukan yang
terbaik diantara laki-laki yang ada, namun akubenar dan tulus mencintaimu. Ibarat
lagu “Walau badai menghadang.. Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu…Berdua
kita lewati jalan yang berliku tajam” itu kamu pegang sebagai pelengkap janjiku
padamu 7 tahun lalu.
Sering aku Tanya padamu… Yank..
kamu cinta aku ga? Tapi jawabmu malah tersenyum.. hehehe pertanyaan yang tidak
perlu dijawab memang. Tapi rasanya aku ingin mendengar kamu bilang “Cinta.. Aq
sayang kamu”. Konyol ah…tapi ga papa kan ya. Para ABG aja ga malu-malu
menyatakan itu di depan umum malah.
Perjuangan untuk terus memupuk
cinta dan melanggengkannya itu yang sekarang kita lalui bersama. Seberapa panjang
jalan cerita ini akan memberikan pelajaran kepada kita untuk terus saling
mengerti, memahami diantara kita. Belum 50 tahun memang perjalanan biduk rumah
tangga ini, namun 7 tahun ini aku telah belajar banyak untuk terus mencintaimu
dan memantaskan diriku untuk kamu cintai. Aku beruntung mendapatkanmu.
10.01
tak semua sama
Perencanaan keuangan bisa dibilang ilmu baru di Indonesia yang mulai
dipraktekkan pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Di negara-negara
maju, justru telah populer sejak puluhan tahun sebelumnya.
Sejatinya, ilmu perencanaan keuangan sudah dipraktekkan puluhan ribu tahun silam. Di antara bukti sejarahnya, kisah Nabi Yusuf AS yang membuat dan mempraktekkan strategi menghadapi masa paceklik.
Al-Quran mencatat kisah Yusuf menerjemahkan mimpi Raja Mesir. Dalam tidurnya, sang raja melihat 7 ekor sapi gemuk yang digantikan 7 ekor sapi kurus serta gandum berisi digantikan gandum kering.
Banyak orang yang telah diminta pendapat mengenai arti mimpi tersebut. Tapi hanya Yusuf yang bisa memberi tahu maknanya. Katanya seperti tersirat dalam sejarah, akan datang 7 tahun masa panen, yang kemudian diikuti 7 tahun masa paceklik. Setelah itu, masa subur Mesir akan kembali.
Seperti kita tahu, sejak zaman dahulu kala, pertanian Mesir sangat bergantung pada Sungai Nil. Jika sungai mengalirkan airnya dengan baik, wilayah Mesir subur dan hasil panennya melimpah. Tapi, bukan tidak mungkin Sungai Nil mengering atau bahkan meluap.
Usai memaknai mimpi, Yusuf melanjutkan nasihatnya pada sang raja. “Hendaklah engkau bertanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa. Maka apa yang engkau tuai hendaknya kau biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk engkau makan.” [Surah Yusuf ayat 47]
Selain membuat prakiraan kondisi di masa depan, Yusuf juga memberikan solusinya. Mengingat 7 tahun masa panen diikuti 7 tahun masa paceklik, hendaknya kita menyimpan hasil panen tetap dalam bulirnya sebagai cadangan saat paceklik tiba.
Sejarah membuktikan, walaupun menghadapi masa paceklik, rakyat Mesir tetap Makmur lantaran ada yang disimpan dari hasil panen sebelumnya. Sampai rakyat dari negeri tetangga yang kelaparan pun meminta bantuan mereka.
Bagi kita yang hidup di zaman sekarang, masa panen adalah masa produktif bekerja atau berbisnis. Masa pacekliknya, yaitu pensiun kelak. Hendaknya kita juga menyimpan hasil panen saat ini untuk menghadapi masa paceklik nanti.
Menariknya dari perkataan Yusuf adalah agar tetap menyimpan hasil panen dalam bulirnya, kecuali sedikit untuk dimakan. Saya mendapatkan kesan dari ayat ini bahwa hasil produksi kita sekarang seharusnya disimpan terlebih dahulu kecuali sedikit yang dikonsumsi. Bukannya dibelanjakan dulu, jika ada sisa lalu disimpan.
Terinspirasi dari kisah ini, saya menggunakan istilah “saving dulu, baru shopping”, seperti termaktub dalam buku saya yang berjudul: “Habiskan Saja Gajimu”. Model belanja dulu kemudian menyimpan, ternyata tidak efektif.
Hal kedua yang menarik dalam pernyataan Yusuf, yaitu panen 7 tahun dan paceklik 7 tahun. Secara logika matematika, mestinya separuh disimpan dan separuh dimakan bisa mencukupi. Tapi ayat tadi memerintahkan untuk makan sedikit saja, atau kurang dari setengah. Kenapa?
Nilai gandum memang tidak akan berkurang jika disimpan dalam bulirnya. Tapi, jumlah penduduk Mesir tentu bertambah banyak selama 7 tahun tersebut. Maka diperlukan jumlah gandum yang lebih besar untuk memberi makan rakyat di masa depan.
Dalam konteks kehidupan sekarang, ini yang kita sebut sebagai inflasi. Nominal uang yang kita simpan mungkin tetap atau bertambah, tapi harga-harga bertambah mahal. Maka strategi yang bisa kita tiru adalah memperkecil konsumsi, perbesar investasi.
Tanpa harus punya keahlian membaca mimpi seperti Nabi Yusuf, kita sudah tahu bahwa harga-harga naik di masa depan. Kita sudah faham kebutuhan bertambah besar seiring perkembangan keluarga. Kita pun mafhum akan menghadapi masa tidak produktif saat pensiun.
Akankah kita diam saja? Atau lakukan sesuatu seperti Nabi Yusuf lakukan?
Sejatinya, ilmu perencanaan keuangan sudah dipraktekkan puluhan ribu tahun silam. Di antara bukti sejarahnya, kisah Nabi Yusuf AS yang membuat dan mempraktekkan strategi menghadapi masa paceklik.
Al-Quran mencatat kisah Yusuf menerjemahkan mimpi Raja Mesir. Dalam tidurnya, sang raja melihat 7 ekor sapi gemuk yang digantikan 7 ekor sapi kurus serta gandum berisi digantikan gandum kering.
Banyak orang yang telah diminta pendapat mengenai arti mimpi tersebut. Tapi hanya Yusuf yang bisa memberi tahu maknanya. Katanya seperti tersirat dalam sejarah, akan datang 7 tahun masa panen, yang kemudian diikuti 7 tahun masa paceklik. Setelah itu, masa subur Mesir akan kembali.
Seperti kita tahu, sejak zaman dahulu kala, pertanian Mesir sangat bergantung pada Sungai Nil. Jika sungai mengalirkan airnya dengan baik, wilayah Mesir subur dan hasil panennya melimpah. Tapi, bukan tidak mungkin Sungai Nil mengering atau bahkan meluap.
Usai memaknai mimpi, Yusuf melanjutkan nasihatnya pada sang raja. “Hendaklah engkau bertanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa. Maka apa yang engkau tuai hendaknya kau biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk engkau makan.” [Surah Yusuf ayat 47]
Selain membuat prakiraan kondisi di masa depan, Yusuf juga memberikan solusinya. Mengingat 7 tahun masa panen diikuti 7 tahun masa paceklik, hendaknya kita menyimpan hasil panen tetap dalam bulirnya sebagai cadangan saat paceklik tiba.
Sejarah membuktikan, walaupun menghadapi masa paceklik, rakyat Mesir tetap Makmur lantaran ada yang disimpan dari hasil panen sebelumnya. Sampai rakyat dari negeri tetangga yang kelaparan pun meminta bantuan mereka.
Bagi kita yang hidup di zaman sekarang, masa panen adalah masa produktif bekerja atau berbisnis. Masa pacekliknya, yaitu pensiun kelak. Hendaknya kita juga menyimpan hasil panen saat ini untuk menghadapi masa paceklik nanti.
Menariknya dari perkataan Yusuf adalah agar tetap menyimpan hasil panen dalam bulirnya, kecuali sedikit untuk dimakan. Saya mendapatkan kesan dari ayat ini bahwa hasil produksi kita sekarang seharusnya disimpan terlebih dahulu kecuali sedikit yang dikonsumsi. Bukannya dibelanjakan dulu, jika ada sisa lalu disimpan.
Terinspirasi dari kisah ini, saya menggunakan istilah “saving dulu, baru shopping”, seperti termaktub dalam buku saya yang berjudul: “Habiskan Saja Gajimu”. Model belanja dulu kemudian menyimpan, ternyata tidak efektif.
Hal kedua yang menarik dalam pernyataan Yusuf, yaitu panen 7 tahun dan paceklik 7 tahun. Secara logika matematika, mestinya separuh disimpan dan separuh dimakan bisa mencukupi. Tapi ayat tadi memerintahkan untuk makan sedikit saja, atau kurang dari setengah. Kenapa?
Nilai gandum memang tidak akan berkurang jika disimpan dalam bulirnya. Tapi, jumlah penduduk Mesir tentu bertambah banyak selama 7 tahun tersebut. Maka diperlukan jumlah gandum yang lebih besar untuk memberi makan rakyat di masa depan.
Dalam konteks kehidupan sekarang, ini yang kita sebut sebagai inflasi. Nominal uang yang kita simpan mungkin tetap atau bertambah, tapi harga-harga bertambah mahal. Maka strategi yang bisa kita tiru adalah memperkecil konsumsi, perbesar investasi.
Tanpa harus punya keahlian membaca mimpi seperti Nabi Yusuf, kita sudah tahu bahwa harga-harga naik di masa depan. Kita sudah faham kebutuhan bertambah besar seiring perkembangan keluarga. Kita pun mafhum akan menghadapi masa tidak produktif saat pensiun.
Akankah kita diam saja? Atau lakukan sesuatu seperti Nabi Yusuf lakukan?
Ahmad Ghozali - Financial Planner dari Zelts Consulting
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter

