Jumat, 29 April 2011

Perjalanan panjang biduk rumah tangga antara 2 orang insan yang berbeda pasti ada riak dan tawa. Seorang suami yang dituntut untuk dapat mendewasakan diri walaupun dia baru pertama kali menjadi pemimpin rumah tangga. Pengalaman demi pengalaman yang terjadi dapat kita ilhami sebagai bagian dari ikhtiar seorang suami menjadi pemimpin yang baik bagi rumah tangganya.

Pada suatu saat ada seorang dosen berkata, jika kelak menjadi suami dan belum dapat menafkahi lahiriah secara maksimal maka perbanyaklah nafkah batinnya. Sontak semua yang mendengar hal itu tertawa. Namun bila kita cermati benar apa yang dikatakannya. Dalam Islam prinsip hidup yang seimbang ( Tawazun) sangat diperhatikan, dalam suatu riwayat Rosul pernah meminta salah seorang sahabat agar jangan hanya terus berdoa di dalam masjid tapi harus tetap menghidupi keluarga dengan bekerja. Tawaan yang saat itu terjadi berkonotasi negative, karena mahasiswa yang sedang meluap darah mudanya itu berpikiran hanya seks yang disebut nafkah batin.

Setelah berkeluarga seks merupakan bumbu yang paling mujarab untuk menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga. Namun hal itu akan tidak berlaku bagi pasangan yang sudah lanjut usia. Kebutuhan batiniah yang lebih agung adalah rasa saling mencintai, dicintai, saling percaya. Sikap romantic harus terus dibina dengan baik, layaknya seorang yang sedang berpacaran. Banyak orang yang ketika pacaran sikapnya sangat romantic, membawakan bunga ketika ulang tahun, berkirim sms yang bernuansa cinta, mengucapkan have a nice dream sayangku cintaku.. dan lain sebagaianya.

Namun ketika mereka telah menjadi pasangan akan kah itu tetap ada? Atau mungkin keluarlah sifat aslinya?. Banyak orang yang seperti itu rupanya. Sehingga tak heran masa pacaran 5 tahun tapi masa pernikahan hanya 3 tahun, sangat tragis rasanya.

IStri pun di tuntut untuk memberikan nafkah batin kepada sang suami. Tentunya bukan nafkah lahir atau harta yang dibutuhkan suami namun lebih pada pelayanan. Apa saja nafkah batin yang dibutuhkan seorang suami ?

1. Sambutan yang hangat selepas kerja

Dalam pekerjaannya suami telah bekerja rata-rata 8 jam sehari, dan itu menguras tenaga dan pikirannya. Berbagai masalah pun dihadapi suami di tempat kerja, complain pelanggan, ketidak cocokan dengan rekan sejawat, targetan yang harus dipenuhi dll. Ketika sampai dirumah sang Istri menyambutnya dengan senyum yang menggoda, ditambah gelayutan yang manja akan membuat sang suami laksana panglima perang yang memenangkan pertempuran2. Makanan dan Minuman yang memabukkan

Teh manis, sirup buah, kopi atau apapun akan terasa sangat sedap jika dihidangkan dengan hati, tidak dengan keterpaksaan apalagi dengan cacian hal itu akan menjadikannya candu untuk suami berlama-lama melahapnya bahkan ketika ditunggui istrinya akan dikunyahnya 50 kali satu suapan.

3. “Kenikmatan” di kamar tidur

Dalam buku Saikulujiyyah A Rajul wa Al Mar’ah oleh Dr Thariq Kamal An-Nu’aimi, yang menggambarkan bahwa perempuan diibaratkan bulan yang terkadang purnama dan terkadang hanya berbentuk garis seperti sabit. Atau memiliki bentuk lain antara purnama dan sabit, sedangkan laki-laki seperti matahari yang selalu terbit pada setiap pagi hari dan di wajahnya selalu tampak senyum yang lebar dan keadaannya akan tetap sama sampai ia tenggelam, kemudian lagi pada pagi berikutnya. Selain itu ada beberapa hal yang ia sampaikan terkait sikap perempuan yang salah antara lain :

- Perempuan bersikap seakan tidak senang melakukan hubungan seksual

- Perempuan tidak meminta melakukan hubungan seksual

- Perempuan pura-pura merasa aneh dan benci dengan tubuh laki-laki, dll

4. Teman diskusi yang mengasyikkan

Ada beberapa suami yang senang menghayal dan bermimpi tentang masa depan keluarga mereka. Tentunya istri yang baik jangan memotong khayalan atau impian suaminya, karena bisa jadi dan sangat banyak khayalan atau impian itu menjadi kenyataan.

5. Pengurusan anak yang baik

Ini merupakan tanggung jawab bersama namun, seorang istri wajib mendidik anaknya dengan baik. Hal-hal kecil yang dilakukan sang anak akan terasa membanggakan suami apabila dilaporkan kepada suami. Walaupun bentuknya sindiran kepada suami tapi jika itu dilakukan anaknya pastilah suami tidak akan marah. Kecapekan di tempat kerja akan sirna jika meliaht anaknya dan mengetahui perkembangan anaknya. Nyanyian anak, celotehan anak akan menjadi nada paling indah di telinga keduanya.

Memang pernikahan itu menggabungkan hal-hal yang berbeda. Sifat yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, cara pandang yang berbeda. Namun, itulah yang membuat kita tentaram di dalamnya seperti yang tertuang dalam Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 21 yang artinya “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang berfikir”.

Tak terbayangkan kasus pernikahan sejenis yang beberapa waktu lalu terjadi. Jika dalam rumah tangga ternyata bukan hal yang berbeda menyebabkan pernikahan itu pecah. Bagaimana mungkin tercipta ketentraman diantara sesame jenis? Salah satu tujuan menikah untuk mendapatkan keturunan tidak akan bisa terjadi.

Namun, kita tidak akan menemukan pasangan yang sangat ideal bagi kita. Banyak diantara kita mengungkapkan hal-hal yang ideal ketika memilih calon pasangan, padahal yang ideal itu terdapat dalam buku. Setiap makhluk pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan.

Selasa, 26 April 2011

Suatu hari di tahun 1999, lantai II sebuah SMA di Sleman terasa gaduh. Siang setelah pelajaran Biologi terjadi pembahasan menarik antara tano, nur, singgih. Anak SMA itu menguak masing-masing partai yang mereka yakini paling baik. Tano dengan partai padi kapas, nur partai merah bara dan singgih dengan partai tali dunia. Pemandangan yang tak biasa di kelas IPA yang notabene anak-anak eksak yang saat itu dianggap politik itu milik anak IPS. Namun entah mengapa diskusi yang terdapat saling ejekan dikerumini juga oleh anak kelas itu semua.

Menarik apa yang mereka bincangkan, tentang idealisme masing-masing partai dalam membangun bangsa. Menurut tanto partai yang diikutinya akan membawa kesejahteraan dengan menjunjung tinggi keadilan, nur pun beranggapan bahwa ideology demokrasi akan dapat membawa keberkahan bagi bangsa. Hal senada diungkapkan singgih yang berpedoman pada kebangkitan bangsa yang hakiki.

Tanto sangat bangga dengan partai yang diikutinya karena sejalan dengan karakter pribadinya yang hanif. Metode pendekatan yang partai itu gunakan ternyata cukup membuat perkembangan kadernya melesat. Bahkan partai tersebut mampu masuk ke 10 besar pemilu tahun itu. Tanto yang sering aktif pun akhirnya mendapat tugas yang menurutnya sangat baik yaitu sebagai kaderisasi pemuda kampung. Suatu jabatan yang mengharuskannya berdakwah dan merekrut pemuda kampung.

Berbeda dengan Nur, dia tidak terlalu aktif di partai tersebut karena kondisi disana yang kurang menerima anak muda menjadi kader yang handal. Jadilah ia, hanya ikut ketika kampanye, keliling kota dengan meraungkan motornya sekeras-kerasnya.

Singgih yang berkarakter ustadz itu memang aktif di partainya. Namun lagi-lagi alas an bahwa kaderisasi yang baik menurut partainya itu bertitik tolak pada orang dewasa sehingga perannya pun kurang signifikan.

Setelah 12 tahun berlalu, ketiganya mendapatkan bahwa idealism mereka saat itu kurang pas. Mereka hanya menuruti darah muda yang menggelegak karena sedang menikmati masa kebebasan. Miris rasanya melihat partai-partai sekarang ini, orientasi yang mereka agungkan adalah kekuasaan. Sistem yang dibentuk di dalamnya sangat tergantung dengan orang yang menggerakkanya. Dalam sebuah buku Eri Sudewo, social entrepreneur mengungkapkan harusnya kehadiran seseorang dalam organisasi adalah untuk kepentingan organisasi. Bukan sebaliknya. Namun berapa banyak organisasi justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu (Sudewo, Eri, Manajemen zakat Tinggalkan 15 Tradisi-terapkan 4 Prinsip dasar-Hal 105.Institute Manajemen Zakat:Jakarta)

Saat ini Bangsa Indonesia sedang menunggu kemunculan “Ratu Adil” yang menurut orang Jawa dapat memberikan ketenangan, kemakmuran bangsa dan Negara. Belakangan pun bermunculan orang yang mengaku Ratu Adil. Padahal menurut Prof Damarjadi Supadjar, Aku yang mengaku-aku tidak ada yang selain yang mengaku. Manis madu lebih manis senyuman gadis manis. Jangan suka meng aku-aku karena wujud dari kesombongan diri dikarenakan yang boleh mengaku Aku hanyalah Alloh SWT yang mengenggam jagad seisinya.

Kegelisahan batin yang dialami rakyat yang melihat ketidak adilan hukum dimana-mana, bahkan sipir penjara pun bisa dibeli orang gayus tambunan. Catatan keburukan bangsa ini pun bertambah-tambah dengan century, debt collector vs kreditur, bom, NII, dan masih banyak lagi. Rakyat dibuat muak dengan tingkah elite bangsa dengan plesiran keluar negeri. Sehingga perlu ditanyakan pada punggawa negeri Apakah mereka tau visi bangsa ini? Atau mereka juga bingung apa visi dan misi bangsa ini?.

Ditengah maraknya berita penderitaan, penindasan, ketidak adilan muncul seorang polisi yang dapat menghanyutkan kedalam buaian gerakan chalya-chalya nya. Seolah mejadi oase di tengah padang masalah Briptu Norman Kamaru menjadi buah bibir, mulai dari anak-anak sampai pejabat. Seorang yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi booming di seantero negeri.

Tanto, Nur, Singgih yang saat ini pun mereka tidak setenar Briptu Norman tetap berpegang pada Idealisme yang mereka anut masing-masing. Tanto dengan kehanifan partainya, Nur dengan kegarangan partai yang diikuti dan Singgih dengan gaya ustadz nya yang kental. Mereka berharap ada perubahan di negeri ini. Jangan sampai kegundahan negeri yang sekarang terjadi dialami juga oleh anak cucu mereka. Apa yang bisa kita berikan?

Senin, 25 April 2011


Mungkin judul diatas tidak bisa kita bayangkan bagaimana bentuknya? Tapi itulah yang sering terjadi. Suatu sore di sebuah gubuk, beberapa orang sedang membicarakan tentang roti. Awalnya pembicaraan itu berjalan normative saja dengan ba bi bu yang tidak sangat birokratis.

Saat salah seorang bicara bahwa roti yang ada sekarang ini kurang baik, karena mudah lumer terkena air. Padahal yang dibutuhkan saat itu adalah roti yang tidak mudah lumer terkena air. Terjadilah saling sindir diantara mereka, wah kalo hanya roti seperti ini saja saya bisa membuatnya” kata hari dengan bangganya. Idun, dibo dan lainya pun menimpalinya dengan tertawa terbahak-bahak. Tona yang membuat pun hanya bisa terangguk sambil menghela nafas panjang. “kita akan mendapatkan pizza yang harganya lebih dari 30 ribu ton” cakap Mahmud yang kemudian ditimpali “kalo gitu kita buang saja roti yang ini” ujar hari sehingga pecahlah tawa di gubuk itu.

Mungkin kita perlu berkaca dengan kejadian diatas. Banyak diantara kita yang sering melakukannya tanpa sadar kita telah menyakiti hati orang yang dengan tulus ikhlas membantu meringankan kesulitan kita. Dalam kondisi yang kekurangan roti yang mudah lumer terkena air pun akan menjadi pengganjal perut yang luar biasa, namun berbeda jika kesulitan itu lambat laun sudah mulai terkurangi roti yang tadinya bermanfaat akan kalah dengan pizza yang harganya diatas 30 ribu.

Jika kita merunut Al Qur’an surat Al Baqoroh 40 yang artinya “Wahai Bani Israil ! ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu dan takutlah kepada-Ku saja”. Ayat tersebut menggambarkan bahwa nikmat yang telah diberikan kepada kita wajib kita syukuri, dan janji yang telah terucap ditekankan untuk ditepati. Janji untuk menggunakan roti yang diberikan selama masih ada maka roti itu pun akan tetap mengeyangkan perut lapar. Tragis sebenarnya jika kita menyimak peristiwa tersebut. Seolah-olah Tona yang memberikan roti menjadi pesakitan karena hanya memberikan roti bukan pizza.

Betapa kita tidak bersyukur dengan apa yang telah diberikan Alloh kepada kita. Berbagai ujian yang silih berganti datang pun tak semakin menyadarkan kita, malah kita senang setelah terjadinya ujian yang diberikan Alloh karena ada kenikmatan yang kita dapatkan. Memang bahwa dibalik kesulitan itu ada kemudahan namun, begitu kemudahan itu kita peroleh tergambarlah kualitas pribadi kita. Apakah kita akan seperti qorun yang berkata bahwa semua kekayaan yang dimilikinya merupakan jerih payahnya ataukah akan seperti Nabi Sulaiman A.S yang berkata bahwa semua kekayaan yang dimilikinya merupakan anugerah Alloh SWT.

Tertawa yang sinis, mengejek sudah diingatkan oleh Alloh melalui Qur’an Surat Al Hujurat 11 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) …. “. Marilah kita introspeksi diri tentang tertawa sinis itu. Apakah itu perlu? Atau memang kita senang mengolok-olok orang lain? Kemudian apakah kita juga tidak mau bersyukur atas apa yang telah diberikan Alloh maupun orang lain walaupun itu sangat sederhana? Terlalu bebalkah kita sehingga seperti itu? Wallahu a’lam bishowab.