Dusun Giriloyo, Wukirsari, di Kecamatan Imogiri, Bantul, secara tradisional merupakan sentra perajin batik tulis. ”Ilmu membatik kami dapat turun temurun sejak dulu. Mayoritas warga Giriloyo memang perajin batik,” ujar Siti Anifah (32), salah seorang perajin.
Potensi ekonomi nan besar itu perlahan surut seiring terpinggirkannya kerajinan batik tulis. Selain tergusur industri batik cap, “Proses membuat batik tulis lebih lama dan kami tidak memiliki akses pasar langsung,” terang Bidayah (27) yang mengaku penghasilan dari membatik tidak mmadahi untuk menopang kebutuhan keluarga.
Bidayah dan teman-temannya mngaku hanya mampu menyelesaikan satu lembar kain atik tulis dalam sebulan. Selama ini, mereka hanya mampu menghasilkan kain batik mentah yang belum diwarnai. Batik mentah itu disetorkan kepada seorang pengepul batik yang disebut juragan. Praktis, para perajin batik tulis hanya menjadi pekerja lepas dengan penghargaan ak lebih dari Rp. 100.000 untuk satu lembar kain batik yang mereka hasilkan.
Prospek suram sebagai perajin batik, menyebabkan banyak warga giriloyo tidak mengembangkan keterampilan alamiahnya. Mereka memilih meningalkan profesi pembatik dan mengadu peruntungan hingga ke luar Jawa. “Saya pernah merantau ke Batam dan Lampung sebagai buruh pabrik demi menjaga asap dapur tetap ngebul,” tutur Bidayah.
Kondisi makin memprihatinkan pasca gempa 5,9 SR setahun lalu. Peralatan membatik perajin Giriloyo hancur tertimpa runtuhan bangunan. Praktis, sementara waktu kegiatan menggores lilin dengan canting yang saban hari terlihat di balik pintu rumah setiap warga Giriloyo tidak terlihat lagi.
Melestarikan Akar Budaya
Memasuki tahap recovery pascagempa, Dompet Dhuafa merangkul perajin batik Giriloyo melalui program pendampingan. Selain memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill membatik, DD juga kerap mengadakan workshop dan eksibisi batik Giriloyo yang memiliki corak unik.
“Ini untuk menjaga akar budaya sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi perbatikan agar tidak terpinggirkan,” ujar Kusnandar, Direktur Program Baznas Dompet Dhuafa. Batik Giriloyo memang mencerminkan keguyuban dan gotong royong yang kental dalam proses pembuatannya. Kusnandar menambahkan, dengan pendampingan, diharapkan terbuka akses permodalan, peningkatan skill dan manajemen, serta akses pasar yang lebih menjanjkan sehingga perajin batik bisa mengandalkan “bakat alamiahnya” untuk bersaing dalam kehidupan.
“Dulu, sebagai buruh kami hanya memperoleh upah seratus ribu untuk selembar kain batik mentah yang kami hasilkan dalam waktu sebulan. Sekarang, kami bisa melakukan proses lebih lanjut sampai ke pewarnaan dengan hasil kain jadi yang harganya lebih tinggi,” tutur Anifah senang. Salah satu keunggulan batik Giriloyo adalah pengunaan bahan-bahan alamiah dari kulit pohon, gula merah, hingga batu secang sebagai bahan pewarna.
Bahkan, sebagian pembatik Giriloyo telah mampu menghasilkan produk pakaian jadi dari batik yang mereka lukis. Harga satu potong kemeja batik Giriloyo dihargai antara Rp. 500.000 hingga jutaan rupiah. Tentunya, ini berimbas pada peningkatan penghasilan perajin batik Giriloyo.
Rekor MURI
Acara refleksi satu tahun pascagempa yang diselenggarakan Tim Teknis Nasional, dimanfaatkan DD Jogja untuk mempromosikan kembali potensi mewah batik Giriloyo. “Kami mencoba membuat event yang akan menyegarkan kembali memori dunia usaha pada potensi batik Giriloo yang pernah berkibar pada masanya,” terang Herdiansyah, Koordinator DD Jogja, mitra pendamping perajin batik Giriloyo.
Setelah hampir setahun nyaris tidak membatik, pagi hari (27/5) seribu tigaratus lebih pembatik yang tergabung dalam Paguyuban Batik Tulis Trilodji Giriloyo, serempak menggores kain sepanjang 1.200m dengan lebar 40cm yang dibentang di pinggir jalan Giriloyo. Tiap pembatik mendapat kapling sekitar satu meter di mana mereka bebas mengekspresikan diri dengan corak yang disukainya. Selain corak-corak biasa, terselip pesan-pesan peringatan setahun gempa dari pembatik yang “kreatif”.
Kehebohan pagi itu adalah upaya mencatatkan rekor dunia batik tulis terpanjang karya perajin batik Giriloyo yang diabadikan Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI). Mulai menggores canting sejak pukul 08.00, kain batik tulis terpanjang di dunia itu pun selesai dikerjakan jelang tengah hari. “Ini jauh sekali memecahkan rekor sebelumnya yang dibuat pembatik di Kabupaten Pacitan (Jatim) sepanjang 200m,” ujar Sri Widayati, representasi MURI yang mengaku terkejut karena panitia pemecahan rekor semula hanya menyarankan kain sepanjang 500m saja.
“Pemecahan rekor dunia batik tepanjang ini kami harapkan menjadi stimulus bangkitnya perbatikan di Giriloyo,” ujar Kusnandar di sela upaya memecahkan rekor yang disaksikan H. Idham Samawi, Bupati Bantul.
Selain memecahkan rekor dunia batik tulis terpanjang, DD Jogja juga memprakarsai pemecahan rekor tas belanja terbesar yang dibuat dengan bahan kain batik. Tas raksasa berukuran panjang 6,5m dengan lebar 2m dan tinggi 5m yang menghias pelataran utama gedung Jogja Expo Center itu menjadi ikon acara Refleksi Satu Tahun Gempa yang digelar Tim Teknis Nasional pada 25 Mei - 27 Mei 2007. Tas raksasa buah karya sekitar limapuluh perajin batik Giriloyo itu pun dicatat oleh MURI sebagai ta belanja terbesar di dunia.
Potensi ekonomi nan besar itu perlahan surut seiring terpinggirkannya kerajinan batik tulis. Selain tergusur industri batik cap, “Proses membuat batik tulis lebih lama dan kami tidak memiliki akses pasar langsung,” terang Bidayah (27) yang mengaku penghasilan dari membatik tidak mmadahi untuk menopang kebutuhan keluarga.
Bidayah dan teman-temannya mngaku hanya mampu menyelesaikan satu lembar kain atik tulis dalam sebulan. Selama ini, mereka hanya mampu menghasilkan kain batik mentah yang belum diwarnai. Batik mentah itu disetorkan kepada seorang pengepul batik yang disebut juragan. Praktis, para perajin batik tulis hanya menjadi pekerja lepas dengan penghargaan ak lebih dari Rp. 100.000 untuk satu lembar kain batik yang mereka hasilkan.
Prospek suram sebagai perajin batik, menyebabkan banyak warga giriloyo tidak mengembangkan keterampilan alamiahnya. Mereka memilih meningalkan profesi pembatik dan mengadu peruntungan hingga ke luar Jawa. “Saya pernah merantau ke Batam dan Lampung sebagai buruh pabrik demi menjaga asap dapur tetap ngebul,” tutur Bidayah.
Kondisi makin memprihatinkan pasca gempa 5,9 SR setahun lalu. Peralatan membatik perajin Giriloyo hancur tertimpa runtuhan bangunan. Praktis, sementara waktu kegiatan menggores lilin dengan canting yang saban hari terlihat di balik pintu rumah setiap warga Giriloyo tidak terlihat lagi.
Melestarikan Akar Budaya
Memasuki tahap recovery pascagempa, Dompet Dhuafa merangkul perajin batik Giriloyo melalui program pendampingan. Selain memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill membatik, DD juga kerap mengadakan workshop dan eksibisi batik Giriloyo yang memiliki corak unik.
“Ini untuk menjaga akar budaya sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi perbatikan agar tidak terpinggirkan,” ujar Kusnandar, Direktur Program Baznas Dompet Dhuafa. Batik Giriloyo memang mencerminkan keguyuban dan gotong royong yang kental dalam proses pembuatannya. Kusnandar menambahkan, dengan pendampingan, diharapkan terbuka akses permodalan, peningkatan skill dan manajemen, serta akses pasar yang lebih menjanjkan sehingga perajin batik bisa mengandalkan “bakat alamiahnya” untuk bersaing dalam kehidupan.
“Dulu, sebagai buruh kami hanya memperoleh upah seratus ribu untuk selembar kain batik mentah yang kami hasilkan dalam waktu sebulan. Sekarang, kami bisa melakukan proses lebih lanjut sampai ke pewarnaan dengan hasil kain jadi yang harganya lebih tinggi,” tutur Anifah senang. Salah satu keunggulan batik Giriloyo adalah pengunaan bahan-bahan alamiah dari kulit pohon, gula merah, hingga batu secang sebagai bahan pewarna.
Bahkan, sebagian pembatik Giriloyo telah mampu menghasilkan produk pakaian jadi dari batik yang mereka lukis. Harga satu potong kemeja batik Giriloyo dihargai antara Rp. 500.000 hingga jutaan rupiah. Tentunya, ini berimbas pada peningkatan penghasilan perajin batik Giriloyo.
Rekor MURI
Acara refleksi satu tahun pascagempa yang diselenggarakan Tim Teknis Nasional, dimanfaatkan DD Jogja untuk mempromosikan kembali potensi mewah batik Giriloyo. “Kami mencoba membuat event yang akan menyegarkan kembali memori dunia usaha pada potensi batik Giriloo yang pernah berkibar pada masanya,” terang Herdiansyah, Koordinator DD Jogja, mitra pendamping perajin batik Giriloyo.
Setelah hampir setahun nyaris tidak membatik, pagi hari (27/5) seribu tigaratus lebih pembatik yang tergabung dalam Paguyuban Batik Tulis Trilodji Giriloyo, serempak menggores kain sepanjang 1.200m dengan lebar 40cm yang dibentang di pinggir jalan Giriloyo. Tiap pembatik mendapat kapling sekitar satu meter di mana mereka bebas mengekspresikan diri dengan corak yang disukainya. Selain corak-corak biasa, terselip pesan-pesan peringatan setahun gempa dari pembatik yang “kreatif”.
Kehebohan pagi itu adalah upaya mencatatkan rekor dunia batik tulis terpanjang karya perajin batik Giriloyo yang diabadikan Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI). Mulai menggores canting sejak pukul 08.00, kain batik tulis terpanjang di dunia itu pun selesai dikerjakan jelang tengah hari. “Ini jauh sekali memecahkan rekor sebelumnya yang dibuat pembatik di Kabupaten Pacitan (Jatim) sepanjang 200m,” ujar Sri Widayati, representasi MURI yang mengaku terkejut karena panitia pemecahan rekor semula hanya menyarankan kain sepanjang 500m saja.
“Pemecahan rekor dunia batik tepanjang ini kami harapkan menjadi stimulus bangkitnya perbatikan di Giriloyo,” ujar Kusnandar di sela upaya memecahkan rekor yang disaksikan H. Idham Samawi, Bupati Bantul.
Selain memecahkan rekor dunia batik tulis terpanjang, DD Jogja juga memprakarsai pemecahan rekor tas belanja terbesar yang dibuat dengan bahan kain batik. Tas raksasa berukuran panjang 6,5m dengan lebar 2m dan tinggi 5m yang menghias pelataran utama gedung Jogja Expo Center itu menjadi ikon acara Refleksi Satu Tahun Gempa yang digelar Tim Teknis Nasional pada 25 Mei - 27 Mei 2007. Tas raksasa buah karya sekitar limapuluh perajin batik Giriloyo itu pun dicatat oleh MURI sebagai ta belanja terbesar di dunia.
RSS Feed
Twitter
16.36
tak semua sama
