Setiap peringatan ulang tahun pernikahan, pastilah akan membawa perbedaan yang berarti. Pada tahun pertama pernikahan rasa jaim, idealisme, keromantisan pastilah sangat terasa. Dimulai dari malam pengantin, keduanya tidak akan memubadzirkan waktu dan tenaga. Bahkan sebelum dekorasi kamar pengantin itu diambil oleh persewaan, keduanya akan selalu berdua di dalamnya. Komunikasi intensif, karena keduanya baru merasakan rasa kecewa. Ya… perasaan menyesal yang teramat dalam mengapa tidak dari dulu mereka menikah.
Pada tahun kedua pun perasaan saling mencinta itu tambah kuat namun, kadang ada yang tidak malu menampakkan di depan umum dan ada juga yang tidak. Bergandengan tangan, mendekap erat ketika berboncengan, makan sepiring berdua seolah dunia ini milik berdua. Suatu saat terlihat dua sejoli yang sedang makan es krim di depan sebuah mini market keduanya pun menikmatinya dengan tertawa geli, walaupun yang mereka makan Cuma 1 es krim. Saling bergantian untuk melahapnya dan kadang mendekatkan es krim itu ke mulut mereka secara berbarengan. Mereka pun tak peduli dengan sejumlah mata yang memandang kepadanya. Entah padangan sinis, senang, pengen atau apapun.
Bagi pria romantisme seperti itu sangat didambakannya. Namun, banyak pula laki-laki yang merasa risih. Namun, perasaan risih itu akan sedikit terkurangi jika anak yang dinantikan mulai “mengganggu” kebersamaan mereka. Bagi laki-laki kehadiran anak merupakan wujud kelelakiannya. Tambah percaya diri, macho dan merasa diri paling jantan diantara semua laki-laki.
Kadang ada juga wanita yang risih dengan perlakuan lelakinya yang agresif. Merasa tidak senang dengan pemujaan yang dilakukannya. Menggandengnya, merangkulnya, meletakkan tangan di pinggangnya bahkan menciumnya di depan umum, mungkin menjadi siksaan baginya. Padahal banyak lelaki yang ingin menunjukkan keromantisannya di depan umum dan itu merupakan aktualisasi diri.
Keromantisan itu pun tergambar dari panggilan sayang keduanya. Ada yang memanggil honey, cinta, permaisuriku, bidadariku, anugerah terindah, dll. Keindahan yang terjadi dalam rumah tangga ini pun terlihat jelas. Semua hal yang mereka lalui sekan hanya indah dan tambah indah. Bahkan kesulitan yang mereka alami pun akan semakin mendekatkan keduanya.
Tak jarang para suami akan mengatakan rasa cintanya dengan ungkapan, sayangku yang cantik.. aku haus akan cintamu, tolong alirkan air cintamu melalui sulur-sulur kasihmu, aku ingin tenggelam dalam lautan birahi asmaramu. Waduh… sang istri pun menyambut dengan gemulainya body , sentuhan di pipi lelakinya, mendekatkan bibirnya.. dah menjauhlah malaikat-malaikat di sekelilingnya karena malu dengan keduanya.
Dalam masa ini, setiap pasangan akan saling memahami kebiasaan masing-masing. Posisi tidur yang aneh, irama dengkuran yang membuat tertawa, terpingkalnya tawa ketika menonton opera van java, komentar yang menghina ketika menonton bola dll membuat sadar, wah ternyata kebiasaan suamiku seperti ini ya. Tapi itu tidak menjadikannya masalah, malah akan semakin jatuh cinta. Ya.. jatuh cinta karena pasangannya tidak sama dengannya.
Saat penuh kasih sayang, yang ketika kaki istri terantuk batu dan berdarah, suami pun rela untuk menyeka, menghisap darahnya dan memaki batu. “dasar batu tidak punya mata” . Hal yang diluar akal sehat pasti terjadi di masa ini. Bahkan kata orang kotoran kucing dibilang coklat. Ihh.. apalagi coklat pasti di bilang madu, padahal kata Prof Damarjati manis madu pasti kalah dengan senyum manis gadis manis.
RSS Feed
Twitter
13.15
tak semua sama

0 komentar:
Posting Komentar