Sabtu, 04 April 2009

November, Desember bulan-bulan akhir ditahun 2008. Hari Pahlawan, Idhul Adha Tahun Baru 1430 H segera menghampiri kita. Hari pahlawan yang jatuh pada setiap tanggal 10 November, seakan tak banyak yang bisa dimengerti maknanya. Sebuah iklan yang ditayangkan salah satu stasiun televisi yang menggambarkan veteran perang yang menjadi tukang semir sepatu anggota dewan yang terhormat menjadi kado untuk hari pahlawan tahun ini. Miris kita melihatnya. Kata pahlawan yang jika dipisahkan menjadi pahala dan wan; pahala yang berarti kebaikan yang diberikan Allah SWT serta wan yang berarti orang; mungkin klise bagi sebagian orang untuk menyebutnya sekarang ini. Keikhlasan baik jiwa, raga, harta bahkan nyawa para pahlawan untuk memerdekaan anak cucu mereka dari penjajah sepantasnyalah kita juga lakukan saat ini. Semangat untuk memerdekakan orang lain dari kemiskinan dengan harta yang kita punyai serta disalurkan melalui lembaga yang amanah, professional menjadi salah satu keniscayaan yang kita lakukan saat ini.

Idhul Adha yang akan tiba di Bulan Desember ini pun melengkapi hari kita untuk memberikan sesuatu yang lebih banyak untuk orang lain; Seperti pesan Pak Harfan sang kepala sekolah dalam film Laskar Pelangi. Terbayang dihati saudara kita, yang dalam kesehariannya tidak mampu membeli daging dapat merasakan lezatnya daging kurban. Sekerat daging kurban yang kita sampaikan kepada kaum mustadh’afin (kaum yang lemah dan dilemahkan), tidak akan meleyapkan begitu saja kedhuafaan mereka. Namun setidaknya agar mereka tidak merasa lelah sendirian dalam himpitan hidup yang semakin sulit. Idhul Adha menjadi puncak persaudaraan bagi kita, guyub rukun, tepo sliro ciri masyarakat Indonesia meyakinkan kita bahwa semangat itu masih melekat di dalam sanubari kita. Pengorbanan kita untuk berbagi telah dicontohkan Nabi Ibrahim A.S yang rela membagi Ismail A.S dengan Allah SWT melalui perintah penyembelihan sang putra. Allah SWT tahu yang terbaik untuk hamba-Nya; itulah yang menjadi keyakinan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah peyembelihan tersebut. Nabi Ismail A.S dengan keimanan yang tinggi dengan mantap bersedia untuk disembelih sang ayah. Sang Ibu pun akhirnya mempersilahkan Ismail untuk disembelih setelah diganggu syetan. Akhirnya pengorbanan keluarga tersebut membuahkan akhir yang manis dengan diangkatnya Ismail sebagai Nabi yang nantinya akan lahir uswatun khasanah kita Nabi Muhammad SAW.

Perjuangan Nabi Ibrahim dan para pahlawan untuk memberikan sesuatu yang terbaik, baik kepada Alloh SWT maupun kepada anak cucu sejalan dengan hadist Nabi Muhammad SAW jika kita memberi, berikanlah yang terbaik dan paling kita sukai. Betapa indah Islam dengan segala ajarannya memberikan nuansa ke-rohmatan lil ‘alaminnya benar-benar nyata.

0 komentar: