Perjalanan panjang biduk rumah tangga antara 2 orang insan yang berbeda pasti ada riak dan tawa. Seorang suami yang dituntut untuk dapat mendewasakan diri walaupun dia baru pertama kali menjadi pemimpin rumah tangga. Pengalaman demi pengalaman yang terjadi dapat kita ilhami sebagai bagian dari ikhtiar seorang suami menjadi pemimpin yang baik bagi rumah tangganya.
Pada suatu saat ada seorang dosen berkata, jika kelak menjadi suami dan belum dapat menafkahi lahiriah secara maksimal maka perbanyaklah nafkah batinnya. Sontak semua yang mendengar hal itu tertawa. Namun bila kita cermati benar apa yang dikatakannya. Dalam Islam prinsip hidup yang seimbang ( Tawazun) sangat diperhatikan, dalam suatu riwayat Rosul pernah meminta salah seorang sahabat agar jangan hanya terus berdoa di dalam masjid tapi harus tetap menghidupi keluarga dengan bekerja. Tawaan yang saat itu terjadi berkonotasi negative, karena mahasiswa yang sedang meluap darah mudanya itu berpikiran hanya seks yang disebut nafkah batin.
Setelah berkeluarga seks merupakan bumbu yang paling mujarab untuk menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga. Namun hal itu akan tidak berlaku bagi pasangan yang sudah lanjut usia. Kebutuhan batiniah yang lebih agung adalah rasa saling mencintai, dicintai, saling percaya. Sikap romantic harus terus dibina dengan baik, layaknya seorang yang sedang berpacaran. Banyak orang yang ketika pacaran sikapnya sangat romantic, membawakan bunga ketika ulang tahun, berkirim sms yang bernuansa cinta, mengucapkan have a nice dream sayangku cintaku.. dan lain sebagaianya.
Namun ketika mereka telah menjadi pasangan akan kah itu tetap ada? Atau mungkin keluarlah sifat aslinya?. Banyak orang yang seperti itu rupanya. Sehingga tak heran masa pacaran 5 tahun tapi masa pernikahan hanya 3 tahun, sangat tragis rasanya.
IStri pun di tuntut untuk memberikan nafkah batin kepada sang suami. Tentunya bukan nafkah lahir atau harta yang dibutuhkan suami namun lebih pada pelayanan. Apa saja nafkah batin yang dibutuhkan seorang suami ?
1. Sambutan yang hangat selepas kerja
Dalam pekerjaannya suami telah bekerja rata-rata 8 jam sehari, dan itu menguras tenaga dan pikirannya. Berbagai masalah pun dihadapi suami di tempat kerja, complain pelanggan, ketidak cocokan dengan rekan sejawat, targetan yang harus dipenuhi dll. Ketika sampai dirumah sang Istri menyambutnya dengan senyum yang menggoda, ditambah gelayutan yang manja akan membuat sang suami laksana panglima perang yang memenangkan pertempuran2. Makanan dan Minuman yang memabukkan
Teh manis, sirup buah, kopi atau apapun akan terasa sangat sedap jika dihidangkan dengan hati, tidak dengan keterpaksaan apalagi dengan cacian hal itu akan menjadikannya candu untuk suami berlama-lama melahapnya bahkan ketika ditunggui istrinya akan dikunyahnya 50 kali satu suapan.
3. “Kenikmatan” di kamar tidur
Dalam buku Saikulujiyyah A Rajul wa Al Mar’ah oleh Dr Thariq Kamal An-Nu’aimi, yang menggambarkan bahwa perempuan diibaratkan bulan yang terkadang purnama dan terkadang hanya berbentuk garis seperti sabit. Atau memiliki bentuk lain antara purnama dan sabit, sedangkan laki-laki seperti matahari yang selalu terbit pada setiap pagi hari dan di wajahnya selalu tampak senyum yang lebar dan keadaannya akan tetap sama sampai ia tenggelam, kemudian lagi pada pagi berikutnya. Selain itu ada beberapa hal yang ia sampaikan terkait sikap perempuan yang salah antara lain :
- Perempuan bersikap seakan tidak senang melakukan hubungan seksual
- Perempuan tidak meminta melakukan hubungan seksual
- Perempuan pura-pura merasa aneh dan benci dengan tubuh laki-laki, dll
4. Teman diskusi yang mengasyikkan
Ada beberapa suami yang senang menghayal dan bermimpi tentang masa depan keluarga mereka. Tentunya istri yang baik jangan memotong khayalan atau impian suaminya, karena bisa jadi dan sangat banyak khayalan atau impian itu menjadi kenyataan.
5. Pengurusan anak yang baik
Ini merupakan tanggung jawab bersama namun, seorang istri wajib mendidik anaknya dengan baik. Hal-hal kecil yang dilakukan sang anak akan terasa membanggakan suami apabila dilaporkan kepada suami. Walaupun bentuknya sindiran kepada suami tapi jika itu dilakukan anaknya pastilah suami tidak akan marah. Kecapekan di tempat kerja akan sirna jika meliaht anaknya dan mengetahui perkembangan anaknya. Nyanyian anak, celotehan anak akan menjadi nada paling indah di telinga keduanya.
Memang pernikahan itu menggabungkan hal-hal yang berbeda. Sifat yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, cara pandang yang berbeda. Namun, itulah yang membuat kita tentaram di dalamnya seperti yang tertuang dalam Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 21 yang artinya “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang berfikir”.
Tak terbayangkan kasus pernikahan sejenis yang beberapa waktu lalu terjadi. Jika dalam rumah tangga ternyata bukan hal yang berbeda menyebabkan pernikahan itu pecah. Bagaimana mungkin tercipta ketentraman diantara sesame jenis? Salah satu tujuan menikah untuk mendapatkan keturunan tidak akan bisa terjadi.
Namun, kita tidak akan menemukan pasangan yang sangat ideal bagi kita. Banyak diantara kita mengungkapkan hal-hal yang ideal ketika memilih calon pasangan, padahal yang ideal itu terdapat dalam buku. Setiap makhluk pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan.
RSS Feed
Twitter
11.21
tak semua sama

0 komentar:
Posting Komentar