2006 cerita itu telah dimulai. Tepatnya
di tanggal 17 desember waktu itu aku dan
kamu mengucap janji suci. Janji itu terucap di depan para saksi dan pak naib
KUA Sleman. Tepat pukul 8 Ayahmu telah menyerahkan seutuhnya kamu untukku. Entah
apa yang kamu rasakan waktu itu, tapi yang jelas..tiba-tiba aku merasa
gemetaran, tidak seperti tadi sebelum mengucap ijab Kabul. Kedua tanganku
terasa berat dan dingin untuk ku angkat memanjatkan doa yang dilantunkan pak
penghulu. Ternyata memang berat untuk menjadi seorang suami untuk istri yang
terkasih. Istri…. Eh aku sudah punya istri? Itulah yang terlintas dipikiranku saat
membacakan sighot taklik di buku nikah itu. Sebuah kata yang asing terucapkan.
Tapi saat tanda tangan itu membuat aku semakin mantap dengan perjalanan hidup
ini.
Tak selesai disitu, ternyata
adegan itu harus diulang dirumah karena tukang foto nya belum datang. Weh..weh..weh.
Acara dilanjutkan dengan “pahargyan” penyaksian kepada seluruh kerabat,
tetangga dan handai tulan. Masih ingat yang kamu katakana sayang saat kita
duduk di pelaminan itu? Ya.. engkau berkata “yang tegak”, masih teringat kata
itu sampai sekarang.
Tak seberapa lama tepat pukul
13.00 kita terburu-buru untuk “boyongan” di rumah orang tua ku. Seusai semuanya
itu, tepat pukul 18.00 maag menyerangmu. Yah.. jadilah malam pertama kita aku
harus membelikan obat maag untuk istriku tersayang. Masih ingatkah sayang
peristiwa itu?
Sekarang 2013, 7 tahun sudah kita
lalui hidup “bebrayan”. Saat ini pun sudah 2 bidadari kecil temani kehidupan
kita. Mengisi setiap lembaran cerita yang akan kita bangun bersama. Entah sampai
berapa lama. 100 tahun pun terasa kurang aku hidup bersamamu.
Menjelang 7 tahun perjuangan
cinta ini kadang pasang kadang turun. Jika aku mengenang masa-masa sulit itu,
rasanya aku belum membuat kamu bahagia. Malah kebingungan, ketidakpastian,
kepedihan yang aku berikan. Aku tak tahu sudah seberapa sering aku menyakitimu,
melukai hatimu dan tak memperdulikanmu, hanya kamu yang bisa hitung dan rasakan
selama ini.
Yah… aku memang bukan yang
terbaik diantara laki-laki yang ada, namun akubenar dan tulus mencintaimu. Ibarat
lagu “Walau badai menghadang.. Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu…Berdua
kita lewati jalan yang berliku tajam” itu kamu pegang sebagai pelengkap janjiku
padamu 7 tahun lalu.
Sering aku Tanya padamu… Yank..
kamu cinta aku ga? Tapi jawabmu malah tersenyum.. hehehe pertanyaan yang tidak
perlu dijawab memang. Tapi rasanya aku ingin mendengar kamu bilang “Cinta.. Aq
sayang kamu”. Konyol ah…tapi ga papa kan ya. Para ABG aja ga malu-malu
menyatakan itu di depan umum malah.
Perjuangan untuk terus memupuk
cinta dan melanggengkannya itu yang sekarang kita lalui bersama. Seberapa panjang
jalan cerita ini akan memberikan pelajaran kepada kita untuk terus saling
mengerti, memahami diantara kita. Belum 50 tahun memang perjalanan biduk rumah
tangga ini, namun 7 tahun ini aku telah belajar banyak untuk terus mencintaimu
dan memantaskan diriku untuk kamu cintai. Aku beruntung mendapatkanmu.
RSS Feed
Twitter
13.32
tak semua sama


0 komentar:
Posting Komentar