Kamis, 05 Desember 2013



2006 cerita itu telah dimulai. Tepatnya di tanggal 17 desember  waktu itu aku dan kamu mengucap janji suci. Janji itu terucap di depan para saksi dan pak naib KUA Sleman. Tepat pukul 8 Ayahmu telah menyerahkan seutuhnya kamu untukku. Entah apa yang kamu rasakan waktu itu, tapi yang jelas..tiba-tiba aku merasa gemetaran, tidak seperti tadi sebelum mengucap ijab Kabul. Kedua tanganku terasa berat dan dingin untuk ku angkat memanjatkan doa yang dilantunkan pak penghulu. Ternyata memang berat untuk menjadi seorang suami untuk istri yang terkasih. Istri…. Eh aku sudah punya istri? Itulah yang terlintas dipikiranku saat membacakan sighot taklik di buku nikah itu. Sebuah kata yang asing terucapkan. Tapi saat tanda tangan itu membuat aku semakin mantap dengan perjalanan hidup ini.

Tak selesai disitu, ternyata adegan itu harus diulang dirumah karena tukang foto nya belum datang. Weh..weh..weh. Acara dilanjutkan dengan “pahargyan” penyaksian kepada seluruh kerabat, tetangga dan handai tulan. Masih ingat yang kamu katakana sayang saat kita duduk di pelaminan itu? Ya.. engkau berkata “yang tegak”, masih teringat kata itu sampai sekarang.

Tak seberapa lama tepat pukul 13.00 kita terburu-buru untuk “boyongan” di rumah orang tua ku. Seusai semuanya itu, tepat pukul 18.00 maag menyerangmu. Yah.. jadilah malam pertama kita aku harus membelikan obat maag untuk istriku tersayang. Masih ingatkah sayang peristiwa itu?
Sekarang 2013, 7 tahun sudah kita lalui hidup “bebrayan”. Saat ini pun sudah 2 bidadari kecil temani kehidupan kita. Mengisi setiap lembaran cerita yang akan kita bangun bersama. Entah sampai berapa lama. 100 tahun pun terasa kurang aku hidup bersamamu.

Menjelang 7 tahun perjuangan cinta ini kadang pasang kadang turun. Jika aku mengenang masa-masa sulit itu, rasanya aku belum membuat kamu bahagia. Malah kebingungan, ketidakpastian, kepedihan yang aku berikan. Aku tak tahu sudah seberapa sering aku menyakitimu, melukai hatimu dan tak memperdulikanmu, hanya kamu yang bisa hitung dan rasakan selama ini.

Yah… aku memang bukan yang terbaik diantara laki-laki yang ada, namun akubenar dan tulus mencintaimu. Ibarat lagu “Walau badai menghadang.. Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu…Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam” itu kamu pegang sebagai pelengkap janjiku padamu 7 tahun lalu.
Sering aku Tanya padamu… Yank.. kamu cinta aku ga? Tapi jawabmu malah tersenyum.. hehehe pertanyaan yang tidak perlu dijawab memang. Tapi rasanya aku ingin mendengar kamu bilang “Cinta.. Aq sayang kamu”. Konyol ah…tapi ga papa kan ya. Para ABG aja ga malu-malu menyatakan itu di depan umum malah.

Perjuangan untuk terus memupuk cinta dan melanggengkannya itu yang sekarang kita lalui bersama. Seberapa panjang jalan cerita ini akan memberikan pelajaran kepada kita untuk terus saling mengerti, memahami diantara kita. Belum 50 tahun memang perjalanan biduk rumah tangga ini, namun 7 tahun ini aku telah belajar banyak untuk terus mencintaimu dan memantaskan diriku untuk kamu cintai. Aku beruntung mendapatkanmu.

0 komentar: