Duh… badan rasanya mendidih dan
panas dingin, saat membaca berita dan menonton video kekerasan anak di bukit
tinggi. Apa yang dilakukan anak itu?
Langsung aku teringat pada 2
anakku yang statusnya perempuan. Sebagai manusia normal mungkin aku akan balas
perlakuan mereka yang menyakiti anakku. Tapi akal sehat dan kepala dingin
mungkin bisa mendudukan masalah yang sedang terjadi.
Jika aku pada posisi dan keadaan
mereka, mungkin mereka sedang memperdebatkan atau apalah yang membuat anak yang
teraniaya itu tak ditolong oleh kawan-kawannya, bahkan tak ada yang bergerak
untuk menyudahi perlakuan mereka. Mungkin saking jengkelnya atau apalah
sehingga merasa ada pembenaran terhadap perlakuan kawan-kawan yang lainnya.
Tapi sebagai orang tua yang
sangat menyayangi buah hatinya, aku tidak akan rela anakku diperlakukan seperti
itu. Jadi teringat peristiwa MOS adikku di Sekolahnya. 3 hari MOS adikku selalu
mengeluh dengan bentakan, cacian bahkan sampai-sampai pekerjaan rumahnya
disobek di depan mukanya. Sampai-sampai dia mengigau tak karuan saat tengah
malam sehingga membuat orang tuaku khawatir.
Hari kedua MOS, aku berniat untuk
menjemput adikku sekaligus untuk protes terhadap guru pendamping MOS. Menurut
jadwal MOS berakhir pukul 14.00 hari itu, namun sampai pukul 15.30 adikku belum
juga keluar dari kelasnya. Sehingga aku berniat untuk melihat ke kelas. Dengan tetap
meminta izin kepada pengurus osis akhirnya, aku diperbolehkan naik ke lantai II
untuk melihat proses MOS yang katanya sedang ada tambahan dari guru.
Di lantai II, aku langsung
ditemui oleh guru pendamping. Nah.. pas batinku. Segera kutanyakan mengapa
belum berakhir MOS yang menurut jadwal telah lebih dari 1,5 jam. Guru tersebut
menerangkan tentang jadwal. Akhirnya sekalian aku sampaikan protes-protes yang
sudah aku siapkan dari rumah untuk diketahui guru tersebut.
Perdebatan terjadi hampir 15
menit setelah akhirnya terputus oleh keluarnya seluruh siswa dari ruangan MOS. Guru
tersebut juga meminta maaf karena perlakuan kakak angkatan yang tidak sesuai
dengan ketentuan sekolah yang menjunjung tinggi sopan santun tersebut. Akupun juga
sama, tetap meminta maaf jika dalam menyampaikan protes kurang berkenan.
Hahhh… entah apa yang ada di
anak-anak sekolah itu. Aku juga tidak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi dari 2
kejadian itu mungkin itu peringatan untukku, bahwa aku harus benar-benar
mendidik anakku dengan sebaik-baiknya. Tak hanya itu, aku juga harus membangun
kedekatan kepada anak sehingga mereka tak membuat jarak denganku.
Namun, aku juga tidak boleh
terlalu over protected agar mereka tetap bisa berkembang normal layaknya
anak-anak dengan usianya. Aku tak ingin anak umur 5 tahun nyanyinya atau
mainannya sudah umur 10 tahun.
RSS Feed
Twitter
15.23
tak semua sama


0 komentar:
Posting Komentar