Senin, 13 Oktober 2014








Duh… badan rasanya mendidih dan panas dingin, saat membaca berita dan menonton video kekerasan anak di bukit tinggi. Apa yang dilakukan anak itu? 

Langsung aku teringat pada 2 anakku yang statusnya perempuan. Sebagai manusia normal mungkin aku akan balas perlakuan mereka yang menyakiti anakku. Tapi akal sehat dan kepala dingin mungkin bisa mendudukan masalah yang sedang terjadi.

Jika aku pada posisi dan keadaan mereka, mungkin mereka sedang memperdebatkan atau apalah yang membuat anak yang teraniaya itu tak ditolong oleh kawan-kawannya, bahkan tak ada yang bergerak untuk menyudahi perlakuan mereka. Mungkin saking jengkelnya atau apalah sehingga merasa ada pembenaran terhadap perlakuan kawan-kawan yang lainnya.

Tapi sebagai orang tua yang sangat menyayangi buah hatinya, aku tidak akan rela anakku diperlakukan seperti itu. Jadi teringat peristiwa MOS adikku di Sekolahnya. 3 hari MOS adikku selalu mengeluh dengan bentakan, cacian bahkan sampai-sampai pekerjaan rumahnya disobek di depan mukanya. Sampai-sampai dia mengigau tak karuan saat tengah malam sehingga membuat orang tuaku khawatir.


Hari kedua MOS, aku berniat untuk menjemput adikku sekaligus untuk protes terhadap guru pendamping MOS. Menurut jadwal MOS berakhir pukul 14.00 hari itu, namun sampai pukul 15.30 adikku belum juga keluar dari kelasnya. Sehingga aku berniat untuk melihat ke kelas. Dengan tetap meminta izin kepada pengurus osis akhirnya, aku diperbolehkan naik ke lantai II untuk melihat proses MOS yang katanya sedang ada tambahan dari guru.

Di lantai II, aku langsung ditemui oleh guru pendamping. Nah.. pas batinku. Segera kutanyakan mengapa belum berakhir MOS yang menurut jadwal telah lebih dari 1,5 jam. Guru tersebut menerangkan tentang jadwal. Akhirnya sekalian aku sampaikan protes-protes yang sudah aku siapkan dari rumah untuk diketahui guru tersebut. 

Perdebatan terjadi hampir 15 menit setelah akhirnya terputus oleh keluarnya seluruh siswa dari ruangan MOS. Guru tersebut juga meminta maaf karena perlakuan kakak angkatan yang tidak sesuai dengan ketentuan sekolah yang menjunjung tinggi sopan santun tersebut. Akupun juga sama, tetap meminta maaf jika dalam menyampaikan protes kurang berkenan.

Hahhh… entah apa yang ada di anak-anak sekolah itu. Aku juga tidak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi dari 2 kejadian itu mungkin itu peringatan untukku, bahwa aku harus benar-benar mendidik anakku dengan sebaik-baiknya. Tak hanya itu, aku juga harus membangun kedekatan kepada anak sehingga mereka tak membuat jarak denganku.

Namun, aku juga tidak boleh terlalu over protected agar mereka tetap bisa berkembang normal layaknya anak-anak dengan usianya. Aku tak ingin anak umur 5 tahun nyanyinya atau mainannya sudah umur 10 tahun.

0 komentar: